Sabtu, 29 Desember 2018
Gedung FAH Bocor
Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) mengalami perpindahan di Jl. Tarumanegara,
Pisangan, Ciputat sejak Maret 2017. Rabu, 12 November 2018 Gedung FAH mengalami
kebocoran di kala hujan datang. Tepatnya ruangan-ruangan di lantai 5 dan atap lantai 4.
Rusaknya atap sebagian besar karena dihantam angin dan tidak segera diperbaiki. Kebocoran
di Gedung FAH membuat mahasiswa terganggu. Lantaran, proses belajar mengajar menjadi
terhambat.
Kebocoran di FAH ini menuai kritik dari mahasiswa. Salah satunya mahasiswa dari Jurusan
Bahasa dan Sastra Arab Deni Rahmad Akbar. “Gedung baru kok sudah pada rusak,” ucapnya,
Selasa (25/12).
Menanggapi perihal kebocoran di FAH, Subbagian Administrasi Umum FAH Ahmadi Sahmi
Sitompul mengatakan bahwa kebocoran di FAH sudah terjadi sejak gedung tersebut
dibangun. “Namun baru dapat ditangani di akhir tahun ini,” terangnya, Minggu (16/12).
Ruang 507 misalnya, pihak kampus baru menindaklanjuti kebocoran pada Rabu (12/12).
Namun meskipun sudah diperbaiki, atap di lantai 4 dan 5 gedung FAH masih terlihat bolong
dan bocor.
5 W dan 1 H = What, Who, Where, When, Why, How
What (apa yang terjadi?) : Gedung FAH ini mengalami kebocoran
Who (siapa?) : Gedung Fakultas Adab dan Humaniora
Where (dimana?) : ruangan-ruangan di lantai 5 dan atap lantai 4
When (kapan?) : Rabu, 12 November 2018
Why (kenapa?) : Rusaknya atap sebagian besar karena dihantam angin dan tidak segera diperbaiki
How (bagaimana?) : Kebocoran di Gedung FAH membuat mahasiswa
terganggu. Lantaran, proses belajar mengajar menjadi
terhambat.
Alasan pemilihan angle karena gedung tersebut memprihatinkan. Lantaran, gedung tersebut
baru setahun dibangun. Namun, sudah bocor. Pihak kampus pun baru menindaklanjuti,
Minim Sistem Kontrol Perpustakaan
Seorang mahasiswa tengah mengambil buku di PP UIN Jakarta, Senin (17/12). Sayang, koleksi buku tak lengkap karena masih ada mahasiswa yang belum mengembalikan tepat waktu.
Rak demi rak, Agie Anditia Felangi mencari buku bertema komunikasi. Sayang, buku yang ia
maksud tak kunjung ia temukan. Dengan rasa berat, ia pun langsung meninggalkan Perpustakaan
Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidikom). Padahal saat mencari buku pada katalog
dalam jaringan (daring) melalui komputer perpustakaan fakultas (PF) buku tersebut tercatat
“tersedia”.
Tak habis akal, Agie segera mengunjungi Pusat Perpustakaan (PP) Universitas Islam Negeri
(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang persis di depan Fidikom. Hasil sama didapatkan Agie,
buku yang ia cari tak ditemukan. “Enggak kebagian sama yang lain, bukunya susah dicari,”
keluhnya, Kamis (13/12).
Hal serupa dirasakan Wahyuni. Yuni yang juga mahasiswi semester 6 Fidikom ini terlihat sedang
mencari buku di perpustakaan fakultasnya. Sayang pencariannya tak membuahkan hasil.
“Bukunya sering enggak ada,” katanya, Senin (17/12).
Berdasarkan data yang dihimpun, dari 51.201 total transaksi terakhir peminjaman di
Perpustakaan Fidikom, terdapat 267 buku yang belum dikembalikan. Sedangkan pada Januari
2018 tercatat 736 buku yang terlambat dikembalikan ke PP UIN Jakarta. Masih kurangnya
sistem pengawasan perpustakaan di UIN Jakarta membuat adanya mahasiswa lambat
mengembalikan buku.
Dalam Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Pelaksanaan Undang-Undang No. 43 Tahun
2007 pasal 50 ayat 1-5 pengawasan perpustakaan meliputi supervisi yang dilakukan oleh
pimpinan perpustakaan dan lembaga perwakilan pihak-pihak. Penyelenggara atau masyarakat
melakukan evaluasi terhadap program perpustakaan. Sedangkan pelaporan dilakukan pimpinan
perpustakaan dan disampaikan kepada penyelenggara perpustakaan.
Menanggapi pengawasan perpustakaan, Kepala PP UIN Jakarta Amrullah Hasbana menjelaskan
bahwa PP UIN Jakarta memberlakukan denda Rp500 per hari. Padahal, dalam Peraturan Menteri
Keuangan (PMK) Republik Indonesia No. 168 Tahun 2017, bahwa denda keterlambatan
pengembalian buku besarannya Rp1000. “Denda sebagai cara agar mahasiswa dapat disiplin dan
bisa mengembalikan tepat waktu,” terangnya, Kamis (20/12).
Berbeda dengan PP, Perpustakaan Fidikom tidak memberlakukan denda bagi peminjam yang
terlambat. Kepala Perpustakaan Fidikom Yarma berdalih tidak memberi denda karena merasa
kasihan kepada mahasiwa. “Yang penting bukunya dikembalikan,” ucapnya, Rabu (19/12).
Terkait keamanan, Staf Layanan Sirkulasi Perpustakaan Fidikom Nuryadi Fasah mengatakan,
keamanan di Perpustakaan Fidikom kurang terjamin. Mereka belum memiliki alat deteksi buku
di pintu keluarnya seperti di PP dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.
Salah seorang Pustakawan Ahli Muda Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI)
Abdul Rahim mengatakan, pemberian peringatan keterlambatan seharusnya dapat melalui
telepon. Cara itu dilakukan guna kemudahan dalam mengurus peminjaman. “Perpanjangan
peminjaman juga dapat dilakukan via telepon,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya, Gedung
Perpusnas, Jumat (14/12).
Hardnews (Media Cetak)
5 W dan 1 H = What, Who, Where, When, Why, How
What (apa yang terjadi?) : di Perpustakaan Fidikom, terdapat 267 buku yang belum
dikembalikan. Sedangkan pada Januari 2018 tercatat 736
buku yang terlambat dikembalikan ke PP UIN Jakarta.
Who (siapa?) : Mahasiswa: Agie Anditia Felangi dan wahyuni
Where (dimana?) : Perpustakaan Fidikom dan pusat perpustakaan UIN
Jakarta
When (kapan?) : Kamis, 13 Desember 2018
Why (kenapa?) : Perpustakaan Fidikom tidak memberlakukan denda bagi
peminjam yang terlambat.
How (bagaimana?) : Masih kurangnya sistem pengawasan perpustakaan di
UIN Jakarta membuat adanya mahasiswa lambat
mengembalikan buku.
Alasan memilih angle ini karena Sistem pengawasan di perpustakaan UIN Jakarta dinilai masih
minim. Mahasiswa menjadi sulit untuk mendapatkan buku yang dicarinya.
Budaya Titip Absen Mahasiswa
Seorang mahasiswa tengah mengisi daftar hadirnya sendiri, Senin (17/12). Mahasiswa yang memegang daftar hadir menjadi peluang untuk menitipkan absensi.
Daftar hadir merupakan bagian dari penilaian formatif dosen kepada mahasiswa. Namun, banyak
dosen yang membiarkan mahasiswanya untuk mengisi daftar hadirnya sendiri. Salah satunya di
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Kebiasaan seperti itu, membuat mahasiswa
bermalas-malasan untuk datang kuliah dan menitipkan daftar hadir kepada temannya.
Titip absen rupanya telah menjadi kebiasaan yang sudah mengakar di kalangan mahasiswa,
khususnya mahasiswa semester atas. Alasannya pun beragam, mulai dari jalan yang macet,
terlambat bangun, tidak tertarik mengikuti mata kuliah, hingga karena bobot mata kuliah yang
dianggap tidak wajib.
Tidak adanya pengecekan kembali oleh dosen membuat daftar hadir mudah dicurangi
mahasiswa. Seperti Mahasiswa Jurusan Sosiologi Rachmat Nurdiansyah menurutnya semester
enam ini telah enam kali menitipkan daftar hadir. “Paling sering kesiangan dan telat karena
macet,” katanya, Selasa (18/12). Meskipun telah enam kali menitipkan daftar hadir, ia memiliki
nilai mata kuliah yang sama seperti temannya.
Rachmat bercerita, kebiasaan dosen yang memberikan daftar hadir langsung kepada mahasiswa
menjadi peluang untuknya menitip absensi. Saat malas atau bangun kesiangan ia cukup bermodal
chat untuk mendapatkan daftar kehadirannya. Ia cukup memberitahukan temannya bahwa tidak
dapat hadir mengikuti mata kuliah tersebut. Kemudian, meminta agar mengisi daftar hadirannya.
Lain hal dengan Rachmat, wanita yang kerap disapa Wanda menceritakan, bahwa mata kuliah
yang ia ikuti pada sore hari membuatnya malas untuk pergi ke kampus. Sehingga, menitipkan
daftar hadir menjadi alternatif untuk menyelamatkan nilainya. Jarak yang jauh dari rumahnya di
Kebon Jeruk membuatnya ogah-ogahan ke kampus. “Males ke kampus kalau cuma satu mata
kuliah doang,” ujarnya, Senin (17/12).
Budaya titip absen ini kadang membuat jengkel mahasiswa yang dititipi, semisal Mega
mahasiswi yang suka dititipkan absensi oleh temannya. “Sekali dua kali sih gapapa, kalau udah
keseringan males juga,” keluhnya, Senin (17/12).
Menanggapi kebiasaan mahasiswa yang menitip absen ini, Wakil Rektor Bidang Akademik
Fadhilah Suralaga menyayangkan sikap dosen yang memberikan daftar hadir langsung kepada
mahasiswa. Padahal, daftar hadir mahasiswa menjadi tanggung jawab dosen. Sebab, daftar hadir
ini merupakan cara dosen mendidik mahasiswa supaya disiplin.
Menurut Fadhilah, dosen mengajar mahasiswa tak hanya untuk menjadi orang yang pintar. Tapi,
dosen pun bertanggung jawab untuk menjadikan mahasiswa orang yang berkarakter. Salah
satunya menanamkan sifat jujur, bertanggung jawab, dan berkomitmen. Ia menegaskan, jika
mahasiswa terbiasa curang dalam melaksanakan perkuliahannya, maka sifat ini akan menjadi
kebiasaan. “Tidak masuk bilang masuk, punya tugas menyuruh orang lain. Bagaimana mau jadi
orang yang jujur,” ungkapnya ketika ditemui di ruangannya, Selasa, (18/12).
5 W dan 1 H = What, Who, Where, When, Why, How
What (apa yang terjadi?) : Banyak dosen yang membiarkan mahasiswanya untukmengisi daftar hadirnya sendiri
Who (siapa yang melakukan?) : Mahasiswa
Where (dimana?) : di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
When (kapan kejadian terjadi?) : Senin (17/12) atau Senin 17 Desember 2018.
Why (kenapa?) : Alasannya pun beragam, mulai dari jalan yang macet, terlambat bangun, tidak tertarik mengikuti mata kuliah,hingga karena bobot mata kuliah yang dianggap tidakwajib.
How (bagaimana?) : Tidak adanya pengecekan kembali oleh dosen membuat daftar hadir mudah dicurangi mahasiswa.
Alasan pemilihan angle karena saya melihat begitu banyak mahasiswa yang melakukan titip
absen. Sehingga, titip absen sudah menjadi budaya yang tidak baik di kalangan mahasiswa. Oleh
karena itu, saya tertarik membuat berita mengenai titip absen. Dimana, dalam berita ini beragam
alasan mahasiswa titip absen.
Menanggapi kebiasaan mahasiswa yang menitip absen ini, Wakil Rektor Bidang Akademik
Fadhilah Suralaga menyayangkan sikap dosen yang memberikan daftar hadir langsung kepada
mahasiswa. Padahal, daftar hadir mahasiswa menjadi tanggung jawab dosen. Sebab, daftar hadir
ini merupakan cara dosen mendidik mahasiswa supaya disiplin.
Menurut Fadhilah, dosen mengajar mahasiswa tak hanya untuk menjadi orang yang pintar. Tapi,
dosen pun bertanggung jawab untuk menjadikan mahasiswa orang yang berkarakter. Salah
satunya menanamkan sifat jujur, bertanggung jawab, dan berkomitmen. Ia menegaskan, jika
mahasiswa terbiasa curang dalam melaksanakan perkuliahannya, maka sifat ini akan menjadi
kebiasaan. “Tidak masuk bilang masuk, punya tugas menyuruh orang lain. Bagaimana mau jadi
orang yang jujur,” ungkapnya ketika ditemui di ruangannya, Selasa, (18/12).
5 W dan 1 H = What, Who, Where, When, Why, How
What (apa yang terjadi?) : Banyak dosen yang membiarkan mahasiswanya untukmengisi daftar hadirnya sendiri
Who (siapa yang melakukan?) : Mahasiswa
Where (dimana?) : di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
When (kapan kejadian terjadi?) : Senin (17/12) atau Senin 17 Desember 2018.
Why (kenapa?) : Alasannya pun beragam, mulai dari jalan yang macet, terlambat bangun, tidak tertarik mengikuti mata kuliah,hingga karena bobot mata kuliah yang dianggap tidakwajib.
How (bagaimana?) : Tidak adanya pengecekan kembali oleh dosen membuat daftar hadir mudah dicurangi mahasiswa.
Alasan pemilihan angle karena saya melihat begitu banyak mahasiswa yang melakukan titip
absen. Sehingga, titip absen sudah menjadi budaya yang tidak baik di kalangan mahasiswa. Oleh
karena itu, saya tertarik membuat berita mengenai titip absen. Dimana, dalam berita ini beragam
alasan mahasiswa titip absen.
Minggu, 02 September 2018
Satu Bulan di Negeri Jiran, Banyak Pelajaran Didapatkan
Hiduplah seolah mati besok, belajarlah
seolah hidup selamanya, begitulah yang dikatakan oleh Mahatma Gandhi.
Dari sini saya belajar arti bersyukur
yang sesungguhnya. Saya juga belajar untuk tidak mengeluh dalam kondisi apapun.
Ketika sekolah dahulu, saya mendapatkan sekolah yang cukup layak di Jakarta.
Namun, saat ini saya melihat anak-anak ibu pertiwi belajar di tempat yang
seperti “kandang ayam”. Bangunan yang terbuat dari triplek dan kayu. Lantai
beralaskan tanah serta atap sekolah dari asbes yang sudah bolong. Sekolah CLC Tunas
Perwira juga tidak ada listrik, jika siang kepanasan ditambah udara berdebu. Jika
hujan lantai menjadi becek.
Sekolah tempat saya mengajar CLC Tunas
Perwira memiliki sistem kelas rangkap. Dimana, kelas Taman Kanak-Kanak digabung
dengan kelas satu SD, kelas tujuh Sekolah Menengah Pertama digabung dengan
kelas delapan. Tak hanya itu, di sini juga kelas 5 dan 6 digabung satu ruangan tanpa ada
sekat. Kelas tujuh, delapan dan sembilan juga digabung menjadi satu ruangan.
Hal ini yang membut kadang-kadang kelas menjadi terdengar sangat berisik dan tidak
kondusif.
Tapi dibalik semua itu, mereka sangat
antusias dalam belajar. Mereka tidak ada yang pernah datang terlambat ke
sekolah. Padahal, jarak antara rumah ke sekolah Tunas Perwira cukup jauh. Mereka
juga harus menunggu datangnya bus yang cukup lama. Walaupun begitu, hal itu
tidak menyurutkan niat mereka untuk
belajar.
Tunas Perwira sebuah sekolah yang
minim guru. Di sana hanya ada empat orang guru yang mengajar. Dua laki-laki dan
dua perempuan. Kadang kala, Guru-guru tersebut mengajar dua kelas sekaligus. Untuk
pengurusan Orientasi Siswa Intra Sekolah di CLC
Tunas Perwira pun tidak ada. Hal ini yang membuat saya dan teman-teman
untuk membuat OSIS yang akan membantu mengurus sekolah juga membantu guru.
Jika saya menjadi bagian dari penduduk
di sini. Merasakan apa yang mereka rasakan dan menjalani apa yang mereka
jalani. Tentunya, saya ingin tempat ini menjadi lebih baik lagi. Anak-anak
Indonesia dapat merasakan pendidikan yang layak. Seperti anak-anak yang
bersekolah di Indonesia.
Saya dan teman-teman kelompok
mengadakan program Pemberdaya Pemuda Berdikari, dengan memberi pelatihan
menulis berita. Saya harap, dengan memberikan pelatihan tersebut, mereka dapat
mengeluarkan aspirasinya. Sampai suara mereka di dengar oleh pemerintah ataupun
masyarakat Indonesia.
Terakhir, saya berharap anak-anak
Indonesia bisa kembali ke tanah air. Karena bisa kembali ke Indonesia adalah
salah satu mimpi dari mereka.
Desa Toleransi
Tawau sebuah daerah perbatasan antara
negara Malaysia dan Indonesia. Sebuah daerah yang masyarakatnya banyak imigran
dari Indonesia. Mereka pendatang dari daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan
Sulawesi untuk bekerja sebagai TKI. Umumnya, masyarakat di desa ini bekerja
sebagai petani di perkebunan kelapa sawit. Biasanya, anak-anak mereka belajar
di sekolah Indonesia atau yang biasa disebut CLC.
Bagaimana memperlakukan perbedaan
antar umat beragama dengan cara yang tepat? Akhir-akhir ini di Indonesia
seringkali perbedaan agama menjadi faktor terjadinya konflik. Hingga akhirnya membuat masyarakat menjadi terpecah belah. Padahal, jika antar umat beragama bisa saling
menghargai. Juga menerima suatu perbedaan. Akan tercipta suasana yang damai.
Seperti halnya di tempat saya
mengabdi, Islam menjadi minoritas. Masyarakat yang memeluk agama Islam lebih
sedikit dibanding dengan pemeluk agama Kristen dan Katolik. Meskipun begitu, peduduk di desa tersebut sangat toleransi. Bahkan seorang ustaz berteman
baik dengan Pa Thomas, yang notabennya beragama katolik dan sering ceramah di
geraja. Jika saya melihat di Indonesia, antara agama saling mengucilkan. Tapi
di sini mereka sangat toleransi antar umat yang lainnya.
Hari kedua di negeri Jiran, saya
bersama Deni, Obie dan Satria pergi mengunjungi rumah warga yang bernama Pa
Thomas. Ia juga seorang Kepala Sekolah di CLC Tunas Perwira yang berasal dari NTT.
Selain itu, ia juga seorang yang memeluk agama Kristen Katolik.
Meskipun beragama Katolik, ia sangat
menghargai orang yang berbeda agama. Saat di rumahnya, aku dan temanku
disuguhkan daging ayam yang baru saja dipotong. Tapi, karena tahu kalau kami
berempat muslim. Ia, meminta tolong kepada Pa Syafawi (orang yang beragama
Islam) untuk menyembelih ayam tersebut. Sebab, ia tahu hukum menyembelih
binatang harus mengucapkan bismillah. Sedangkan ia bukan seorang muslim.
Saat di rumah Pa Thomas, ia juga
banyak menceritakan sejarah CLC Tunas Perwira. Salah satunya, pada tahun
2002-2003 murid-murid Pa Thomas belajar di sebuah Gereja. Seiring berjalannya
waktu, banyak anak-anak yang beragama Islam ingin belajar bersama Pa Thomas.
Akhirnya, Pa Thomas berinisiatif untuk membangun sebuah sekolah. Dimana,
sekolah tersebut bisa diisi oleh putra-putri Indonesia. “Siapapun orangnya,
apapun agamanya, dimanapun asal daerahnya, saya hanya peduli dengan pendikan,” ucap
Pa Thomas, Jumat (24/7).
Aku dan Keluarga Baru
Memilih KKN
Mandiri Internasional memang bukanlah hal mudah. Karena, dari mencari teman
kelompok, tempat, hingga mencari dana semuanya dilakukan mandiri. Tapi saya
percaya, jika semua itu dilakukan dengan sungguh-sungguh pasti bisa. Karena
Allah menghargai usaha hambanya.
Begitu berliku
perjalanan yang dirasakan oleh kelompok KKN Pendekar untuk bisa menapaki kaki
ke Negeri Sabah ini. Saat itu, waktu pelaksanaan KKN akan berjalan sebentar
lagi. Namun, kelompok saya belum mendapatkan surat balasan dari KRI Tawau.
Sebuah surat yang berisi perizinan untuk KKN di Tawau. Dari pihak Pengabdian
Kepada Masyarakat (PPM) pun memberi batas waktu. Jika kami belum ada surat
perizinan dari pihak sana, maka KKN Mandiri Internasional ini terpaksa bubar.
Kemudian, saya harus kembali ke kelompok KKN regular.
Sampai waktu
yang sudah ditentukan, pihak KRI Tawau belum memberikan surat balasan. Sebab,
masih ada yang perlu diperbaiki dari proposal kegiatan kelompok saya. Hingga
akhirnya, dari pihak PPM mengeluarkan file yang berisi daftar pembagian
kelompok KKN. Dari yang semula hanya terdapat 200 kelompok regular. Kali ini, file
tersebut tercantum nama mahasiswa yang mengikuti KKN Internasional Mandiri,
Kebangsaan dan bersama, in campuss juga wilayah perbatasan. Namun, nama
saya masih tercatat di kelompok KKN regular.
Berada dalam
ketidakpastian, begitulah yang saya rasakan. Hal tersebut membuat saya tetap
ikut serta untuk datang rapat di kelompok KKN regular, juga pergi mengunjungi
rumah dosen pembimbing. Di samping itu, saya juga mengurus kelompok KKN
Internasional. Lelah? Sudah pasti, karena saya ikut serta dalam dua kelompok.
Kendala perizinan
belum selesai, sudah ada lagi yang lain. kini tentang dana yang tak kunjung
ada. Kemana saya akan mencari sponsor untuk bisa pergi kesana? Waktu tersisa
tinggal satu bulan lagi. Berbagai instansi juga kemeterian saya kunjungi. Namun
hasilnya nihil. Tak habis akal, saya mengirimkan email untuk mengajukan kerja
sama ke berbagai instansi. Akan tetapi, tidak ada balasan sama sekali.
Sedih sudah
pasti, tapi saya tidak mau berputus asa begitu saja. Saya yakin, di balik ujian
yang di dapat dari kelompok KKN Pendekar ini pasti Tuhan memberikan jalan.
Tuhan Maha pengabul doa dan benar saja, salah satu teman saya mengatakan untuk
mengajukan proposal ke sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit. Sesudah itu,
teman saya mengabarkan bahwa proposal kelompok KKN kami diterima. Lalu kami
diminta datang ke kantornya pukul 10.00 WIB yang berlokasi di Plaza Indonesia.
Sehabis
mendapat kabar seperti itu, saya bersama Ahsanti, Hafizh dan Fahmi segera pergi
ke kantor PT. Minamas Plantation. Sesampainya di Plaza Indonesia saya
menukarkan Kartu Tanda Penduduk ke resepsionis. Lalu resepsionis itu memberikan
sebuah id card pengunjung agar bisa masuk ke dalam kantor tersebut.
Setelah itu,
saya masuk ke dalam sebuah ruangan yang hanya terdapat meja bundar, enam bangku
juga infokus. Di sana saya bertemu dengan Manajer Corporate Social
Responsibility (CSR ) PT. Minamas
Plantation Agus. Pertama, kami berkenalan terlebih dahulu dengan menyebutkan
nama, fakultas dan jurusan.
Kemudian kami
mulai mempresentasikan, Hafiz yang menjelaskan mengapa memilih KKN di Tawau,
Ahsanti yang menjelaskan visi dan misi serta anggaran. Lalu saya mempresentasikan program-program yang akan di
jalankan kelompok KKN Pendekar selama di Tawau, Sabah-Malaysia. Terakhir Fahmi
yang menjelaskan bentuk penawaran kerja sama.
Jujur saya
gugup dan takut salah bicara di depan manajer CSR. Saya pun bertanya kepada
teman-teman saya, apa mereka mempercayakan saya untuk bicara? Mereka pun
berkata iya, sembari menganggukkan kepala dan tersenyum kepada saya. Melihat mereka
seperti itu, saya pun tidak ingin mengecewakannya. Akhirnya, saya memberanikan
diri untuk menjelaskan program-program KKN Pendekar. Meskipun, jauh dari kata
baik.
Setelah
beberapa penawaran kerja sama, PT. Minamas Plantation ingin bekerjasama dan
memberikan dana kepada kelompok KKN Pendekar sebesar Rp32.500.000. Akan tetapi,
meskipun telah mendapat sponsor, saya
tetap mencari donasi dengan berkeliling Situ Gintung saat hari pekan.
Tak hanya itu, saya juga menjual baju-baju yang masih layak dipakai.
Perkara dana
sudah selesai dan surat dari KRI Tawau pun telah diberikan kepada kelompok KKN
Pendekar. Kini kami ingin memberitahukan kepada PPM. Bahwasannya, kami sudah
mendapat surat perizinan dari KRI tawau. Kami tidak tahu apakah masih diterima
atau tidak surat ini. Pasalnya, penentuan kelompok KKN sudah mutlak. Batas
waktu pengumpulan berkas perizinan pun sudah jatuh tempo.
Meskipun
begitu, kami tetap mencoba memberikan surat tersebut ke ruang PPM. Kemudian,
pihak PPM meminta kami untuk menunggu persetujuan dari kepala PPM Djaka
Badranaya. Berhari-hari kami telah
menunggu, berharap ada kepastian dari pihak PPM. Berkali-kali juga mengunjungi
ruang PPM, berhasrat bertemu dengan kepala PPM. Tapi tak kunjung temu. Sampai akhirnya,
salah satu temanku menelpon kepala PPM. Alhamdulilah, kepala PPM memberikan
izin KKN Pendekar untuk mengikuti KKN Mandiri Internasional di Tawau, Sabah-
Malaysia.
Mungkin kami
tidak akan bisa pergi mengabdi di luar negeri, jika kelompok ini tidak ada
kerja sama tim dan rasa kekompokan yang tinggi. Saling menguatkan itulah yang
menjadikan modal utamanya.
Begitulah
perjuangan saya bersama teman kelompok sebelum KKN. Hingga akhirnya bisa sampai
ke negeri Jiran bersama-bersama. Kali ini saya ingin menceritakan teman
kelompok saya selama KKN. Saya di CLC Tunas Perwira bersama dengan Deni Rahmad
Akbar, Lalu Satria Gunawan dan Robiatu Al Addawiyah. Namun, antara perempuan dengan
laki-laki kami berbeda rumah dan tidak tinggal satu atap. Kalau malam tiba,
kedua lelaki itu kembali ke rumahnya. Jadi saya hanya tinggal berdua saja dengan
Obie (sapaan akrabnya).
Jauh dari
keluarga, merekalah yang saya miliki selama di Tawau. Mereka bertiga sudah seperti
keluarga. Tempat saya berkeluh kesah juga berbagi cerita. Begitu banyak kisah
tentang mereka yang membuat saya ingin menceritakan dalam lembaran kertas ini.
Pertama, saya
ingin menceritakan tentang teman yang tinggal satu atap dengan saya, namanya
Obie. Saya merasa bahwa memiliki kemiripan dengannya. Kami berdua termasuk anak
yang tinggal di Ibu Kota dan manja. Hidup berkecukupan lalu harus merasakan
betapa susahnya tinggal sebagai perantau di suatu desa. Saya masih mengingat
pertanyaan yang ia lontarkan “bagaimana sih caranya mencuci baju?”. Begitulah yang
diucapkan oleh Obie.
Kemudian ada Satria,
masakan yang ia buat selalu lezat. Saat saya dan Obie sedang lelah untuk memasak,
Satrialah yang menggantikan untuk memasak. Lalu Deni, seorang lelaki yang
selalu mencairkan suasana. Selalu saja ada gurauan yang keluar dari bibirnya. Deni
memiliki sifat peduli kepada temannya. Saat itu, Saya, Obie dan Deni sedang
jalan-jalan mengelilingi kota Tawau. Namun saat pulang, mobil yang kami naiki
salah. Akhirnya kami turun di tengah jalan. Denilah yang paling panik saat itu,
padahal saya dan Obie biasa saja. mungkin menurutnya, ia ingin menjaga
teman-temannya.
Satu bulan di
negeri Jiran begitu banyak kisah yang tak terlupakan. Jujur kami berempat tidak
ada yang pandai memasak. Kali pertama memasak nasi goreng tapi hangus. Ada pula
yang memasak nasi goreng tapi rasanya
hambar. Lalu ada yang merebus mie instan, namun lodoh sampai air di panci
habis. Kemudian, ada yang memasak nasi tetapi airnya kurang, sehingga masih
berbentuk beras. Walaupun begitu kami tetap menghargai makanan yang telah
dibuat, kami tidak membuang makanan tersebut bagaimanapun rasa dan bentuknya. Karerna
saya tahu di luar sana masih banyak yang sulit untuk mencari makan.
Berawal dari Keinginan untuk Keluar Negeri
Awalnya,
tujuan saya untuk ikut Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Internasional di daerah
Tawau, Sabah-Malaysia karena keinginan saya untuk bisa keluar negeri. Saat itu
saya berpikir, semakin jauh melangkah maka akan banyak pengalaman-pengalaman
baru yang datang. Akan tetapi, setelah saya melihat langsung bagaimana kondisi
Warga Negara Indonesia. Khususnya, anak-anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang
ada di Tawau, begitu banyak yang belum mendapatkan pendidikan layak. Terlebih, di
tempat saya mengabdi di Community Learning Center (CLC) Tunas Perwira.
Kali
pertama melihat kondisi sekolah tempat saya mengajar, hati ini bertanya kenapa
saya yang harus di tempatkan di CLC Tunas Perwira? Kenapa bukan yang lain? Saya
pun tidak bisa menolak karena ini sudah menjadi keputusan Konsulat Republik
Indonesia (KRI) Tawau. Kelompok yang tadinya berjumlah 12 orang, kini dipecah
menjadi tiga bagian. Ada yang di CLC Merotai, Balung River dan saya beserta
tiga teman yang lain di Tunas Perwira.
Mulanya
saya ingin seperti teman yang di tempatkan di
CLC Merotai dan Balung River. Namun semua keinginan itu hilang. Semua
itu terjadi saat saya sedang menuju tempat tinggal di Kampung Rangu. Di sana ada
anak-anak yang berlari mengejar mobil yang saya naiki. Mereka berlari sembari
melambaikan tangan dan tersenyum. Saya yang berada di dalam mobil pun sontak
melambaikan tangan juga. Ya, kedatangan saya di sambut dengan hangat oleh
mereka. Setibanya saya di rumah, anak-anak yang berlari tadi menghampiri saya
dan bersalaman.
Anak-anak
TKI di Malaysia sama dengan anak Indonesia yang lain. Hanya saja nasib mereka
yang berbeda. Mereka tinggal di negara Malaysia dan tidak memiliki dokumen. Hal
itu, yang membuat mereka seringkali ditangkap oleh polisi Malaysia. Ada salah
satu murid saya yang menceritakan, saat pagi-pagi buta ada seorang yang
berpakaian polisi datang ke rumahnya. Ia pun langsung melarikan diri dari
rumahnya.
Mendengar
langsung cerita dari anak-anak penerus bangsa ini, bahkan melihat langsung kehidupannya.
Betapa sulitnya hidup di negera asing. Tapi semua itu tidak menurunkan semangat
mereka untuk belajar. Mereka masih bisa tertawa dalam kondisi apapun. Hal itu
yang menjadi alasan saya mengikuti KKN Mandiri Internasional. Saya ingin
melihat tawa dan candanya putra-putri bangsa Indonesia.
Selain
itu, saya ingin mengenalkan mereka tentang Indonesia yang kaya akan sumber alam
ini. Karena masih banyak yang mereka tidak tahu tentang Indonesia dan
budayanya. Tak hanya itu, saya juga ingin mereka mendapatkan pendidikan yang
layak. Sebagaimana yang dirasakan oleh anak-anak di Indonesia.
Kalau
dikatakan kompetensi, tidak juga. Di sana saya juga perlu banyak belajar.
Hal
yang saya lakukan di sana setiap hari Senin sampai Jumat mengajar anak-anak di
CLC Tunas Perwira. Setelah jam pulang sekolah, mereka ke rumah saya untuk
belajar tambahan, ada yang belajar matematika, bahasa Inggris dan IPA. Selain
belajar, mereka juga sembari bermain, ada yang bermain UNO, scrabble dan monopoli.
Jika waktu sudah menunjukan Pukul 16.00 WIB mereka sudah harus kembali
kerumahnya. Karena bus sekolah sudah menjemputnya.
Khusus
di hari Selasa, selepas jam pulang sekolah saya mengajarkan anak-anak yang mau
belajar membaca puisi. Saya ingin, salah satu dari anak-anak itu bisa mengikuti
lomba puisi dan mengharumkan nama Indonesia.
Setiap
Jumat saya mengajak anak-anak untuk belajar membaca buku Iqra dan Alquran di
rumah. Hidup di tempat yang mayoritas Katolik membuat mereka minim pelajaran
agama Islam. Bahkan, ada anak kelas enam Sekolah Dasar (SD) yang masih belajar buku
Iqra. Adapula yang sudah sampai usia pada tahap kedewasaan, tapi
belum mampu membaca Alquran dan salat.
Akhirnya saya pun mengajak mereka
untuk belajar mengaji bersama di rumah. Saya ingin kenalkan mereka tentang
Islam. Mereka pun antusias untuk ikut mengaji bersama. Bahkan ada yang ingin, namun
memiliki kendala dana. Akhirnya, saya dan ketiga teman yang lain berinisiatif memberikan
ia biaya untuk menaiki bus.
Sebelum
pergi ke tempat tujuan KKN, tentu sudah ada rencana-rencana yang sudah di susun
rapi dalam bentuk proposal. Dalam program pendidikan yaitu menjadi pengajar
CLC, cerita bersama wali murid, pemberdayaan pemuda, rumah baca, dan penyuluhan
anti narkoba. Kemudian dalam rencana dalam program agama adalah bina baca Alquran.
Terakhir, dan program budaya ada Hari Ulang Tahun (HUT) RI, latihan pengenalan
budaya dan post to post.
Jujur,
sebelum mengikuti KKN, saya termasuk pribadi yang tidak mandiri. Wajar saja,
saya tidak pernah jauh dari orang tua. Mencuci baju, mencuci piring setelah
makan jarang sekali saya melakukan saat di rumah. Sampai-sampai saya tidak
pernah yang namanya memasak nasi. Tak hanya itu, saya tidak bisa memasak.
Banyak
pelajaran yang saya dapatkan setelah satu bulan mengikuti KKN, semua ini
mengajarkan saya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Pribadi yang harus menghadapi
masalah apapun itu. Saya menempati tempat tinggal yang memang tidak ada barang
apapun. Jika di Jakarta saya bisa tidur di kasur yang empuk. Tapi di sini, saya
tidur hanya beralaskan kain saja. Malah, baju rompi saya gunakan untuk
dijadikan bantal. Terakhir, saya tidak pernah mengajar di sekolah.
Ini adalah pengalaman baru yang saya dapatkan di KKN.
Setelah
ikut KKN saya menjadi orang yang lebih menghargai makanan. Sebab, di sana
setiap harinya saya hanya memakan telur, nasi goreng, dan makanan siap saji
seperti sarden dan mie instan. Hanya itulah, makanan saya selama satu bulan
menjalani KKN. Selesai ikut KKN, saya di rumah menjadi suka memasak, sampai
orang tua saya sendiri heran dengan sikap saya sehabis KKN. KKN
mengajarkanku arti bersyukur yang sesungguhnya.
Jumat, 15 Juni 2018
Resensi buku "Jurnalisme Kosmopolitan" Karya Janet Steele
Meskipun prinsip-prinsip jurnalisme—kebenaran, verifikasi, keseimbangan, dan kemandirian dari kekuasaan—bisa dibilang universal, di beberapa
media prinsip itu ditafsirkan
melalui prisma budaya lokal negara tempat media mengudara.
Seperti lima organisasi berita di Indonesia dan Malaysia menyarankan berbagai
pendekatan untuk memahami hubungan antara jurnalisme dan Islam.
Sebagai contoh para
penulis di Majalah Sabili—1984 sampai 2013—mereka dipekerjakan atas
kemampuan mereka berdakwah. Mereka percaya bahwa jalan keluar dari
penyakit-penyakit masyarakat modern terletak dari penerapan syariat Islam. Juga
Republika, sebuah koran Indonesia yang didirikan untuk melayani
komunitas Muslim.
Sabili
merupakan media yang pertama kali menerbitkan tulisannya pada 1984 dan gulung
tikar April 2013. Jenis Islam yang dipresentasikannya disebut skripturalis,
literalis bahkan fundamentalis. Politik Majalah Sabili dapat digambarkan
secara beragam, sensasional, provokatif dan cenderung menawarkan teori
konspirasi pendukung Perang Salib dan Zionis. (hal. 38)
Seperti pada Mei 2002,
sampul depan Sabili menampilkan gambar bangunan Institut Agama Islam
Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dengan tajuk utama “IAIN: Ingkar
Allah, Ingkar Nabi.” Juga menuduh kelompok studi di IAIN seperti Forum
Mahasiswa Ciputat (Formaci) mendukung sekularisasi, menolak penerapan syariat,
mendukung pernikahan orang beda agama, dan mengabaikan perintah agama untuk
mengajak pada kebaikan dan melarang perbuatan jahat.
Hal tersebut membuat
pihak IAIN Syarif Hidayatullah bereaksi. Rektor periode 1998-2006 Azyumardi
Azra datang menemui seorang pemilik Sabili Rahmat Ismail untuk meminta
klarifikasi. Lalu Azra juga bertanya apakah Majalah Sabili sengaja menyebutnya
murtad?. “Rahmat meminta maaf dan memohon ampun.” Azra pun memberikan nasihat “Tahan
dirilah dari perbuatan menjelek-jelekkan orang lain.”
Janet Steele menilai,
contoh kasus tersebut mengisyaratkan bahwa berita di Sabili sama sekali
tidak berimbang. Menanggapi hal tersebut, Pemimpin Redaksi terakhir Sabili
Eman Mulyatman berpendapat bahwa media lain juga melakukan hal yang sama “Mereka
juga berpihak.” Tempo berpihak dan Sabili tentu punya misi
sendiri. Visi dan misinya adalah kebijakan editorial. (hal. 68)
Lain hal dengan Malaysiakini.
Salah satu media Malaysia ini lebih mempresentasikan Islam dalam konteks
sekuler, meski mereka menolaknya. Juga menolak disebut islami, bahkan editor Malaysiakini
selalu menjaga agar diskusi tentang agama berada di luar ruang redaksi.
Berita yang disajikan
oleh Malaysiakini bersifat multi etnis, ras, dan agama. Mereka menolak
membicarakan agama dalam konteks laporan-laporannya. Wajar jika reporter di Malaysiakini
tetap akan diminta menulis topik-topik kemurtadan agama tertentu meski hal itu
membuatnya gelisah, lantaran akan tidak disukai oleh pembacanya yang masih
terkait dengan agama yang ditulis.
Malaysiakini selalu
menyoroti politisasi Islam di Malaysia dalam segala laporan-laporannya. Mantan
editor Malaysiakini berkata “Ada islamisasi dalam segala hal. Fokus kami
selalu dianggap cenderung anti-pemerintah, tetapi sebenarnya juga
anti-islamisasi. Dan orang Melayu di Malaysiakini adalah Melayu
liberal.”
Namun, beberapa
reporter Malaysiakini menyatakan seorang Islam yang konservatif dan menganggap
bahwa Agama selalu melatarbelakangi pemikirannya. Meskipun di Malaysiakini
Ia tetap bekerja dengan sensor yang ketat dan tetap melaporkan berita dengan
fakta-fakta yang seharusnya.
Demikian ulasan dan
fakta yang disajikan Janet Steele dalam buku laporannya Jurnalisme
Kosmopolitan di Negara-Negara Muslim Asia Tenggara. Buku ini hasil penelitiannya di Indonesia dan Malaysia kurun
20 tahun. Penelitian ini menggunakan wawancara dan pengamatan
partisipan di lima penerbitan yang mewakili hubungan yang berbeda antara
jurnalisme dan Islam.
Buku penelitian ini
tetap enak dibaca. Akan tetapi, karena buku ilmiah laporan penelitian jadi penyusunan
bahasa perlu dipahami ulang.
Senin, 12 Februari 2018
Inovasi Kalkulator Casio
Tema : Little Things To Boost Mood And
Productivity
Kode Promo : CASIOBLOGXE2044
Namaku Aini. Aku
mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan di salah satu Perguruan Tinggi Negeri
(PTN) yang ada di Jakarta. Saat ini, aku sudah semester lima. Semester
pertengahan di mana tugas menumpuk, di tambah dengan adanya mata kuliah statistika.
Jujur, aku bukanlah seorang yang pandai dalam ilmu eksakta maupun
hitung-hitungan. Namun, di semester ini aku dipertemukan dengan mata kuliah
statistika. Rasa takut terus menghampiri tapi tetap ku jalani.
Setelah masuk pertemuan
pertama, dosen mata kuliah statistikaku menyuruh mahasiswanya untuk membawa
kalkulator saat pelajaran yang diajarkan olehnya. Karena tidak memiliki
kalkulator, akhirnya aku pun ingin membelinya. Aku pun segera mencari referensi
untuk membeli kalkulator. Setelah membaca dari berbagai sumber di website, aku menemukan sebuah merek kalkulator
dengan harga terjangkau, sangat unik dan tentunya stylish. Produk tersebut bernama “Casio My Style Colorful
Calculator.”
Sama halnya dengan nama
“colorful”, Casio ini memang banyak
pilihan warnanya. Tersedia 10 pilihan warna dari Casio Colorful, yaitu oranye, pink fushia, pink muda, biru, ungu,
hijau, biru toska, hitam, kuning, dan putih. Kemudian langsung aku memesannya
di website
www.mataharimall.com dan mendapatkan promo, dengan syarat
mencantumkan kode promo “CASIOBLOGXE2044.”
Aku memesannya dengan
mengambil warna hijau. Sesuai dengan maknanya, warna hijau ini memberikan ketenangan dan juga efek relaksasi bagi seseorang yang melihatnya. Warna ini memang menggambarkan sikap diriku
yang tidak suka dengan keramaian. Aku pun tak-segan-segan membagikan kode promo
tersebut kepada teman-temannku, agar mereka juga dapat membeli kalkulator
dengan harga terjangkau.
Desainnya yang stylish dan juga modern, tidak membuatku
ragu membawanya ke ruang kelas untuk belajar. Tak hanya itu, aku pun ingin
selalu belajar hitung-hitungan dengan menggunakan kalkulator Casio My Style Colorful Calculator. Aku
menggunakan kalkulator ini untuk menghitung tentang materi hipotesis, regresi,
kolerasi dan sebagianya. Karena pada kalkulator Casio My Style ini memiliki
fitur yang lengkap. Dengan belajar menggunakan Casio ini pun juga membuat jadi
semangat.
Alhamdulillah, saat
pengumuman hasil nilai Indeks Prestasi (IP). Mata kuliah statistika ku
mendapatkan nilai 81 (A). Aku sangat senang saat itu ketika melihat di website univeristasku. Tak
henti-hentinya aku mengucapkan syukur atas nilai yang ku dapatkan itu. Terima kasih
Casio #CasioMyStyle. Tanpamu aku tak bisa mendapatkan nilai A dari mata kuliah
statistika ini.
Casio
My Style Colorful Calculator memang bisa menaikkan mood untuk belajar hitung-hitungan. Rasa malas menjadi hilang setelah melihat warnanya yang lucu. Dan juga menarik, unik, simple dan sylish. Pelajaran sulit pun siap dihadapi tanpa rasa takut sama
sekali. #CasioMyStyle juga mudah digunakan untuk mahasiswa.
Recommended
juga untuk mahasiswa yang ingin menyusun skripsi nih. Insyaallah nilai skripsi
yang di dapat bagus. Tak hanya mahasiswa, untuk yang masih berada di bangku
sekolah Sekolah Menegah Atas (SMA) maupun yang sedang menjalankan sebuah
bisnis. Kalian bisa memilih varian warna yang terdia dari produk Casio My Style
ini.
Buat kalian
yang belum memiliki Casio My Style
Colorful Calculator, yuk buruan dapatkan produk terbaru dari Casio.
kalian bisa dapatkan di websitenya www.mataharimall.com. Dapatkan juga diskon
20% ini dengan mengunjungi http://www.knowyourcolor.id. Promo ini berlaku hingga 31 Maret 2018.
Langganan:
Komentar (Atom)



