Memilih KKN
Mandiri Internasional memang bukanlah hal mudah. Karena, dari mencari teman
kelompok, tempat, hingga mencari dana semuanya dilakukan mandiri. Tapi saya
percaya, jika semua itu dilakukan dengan sungguh-sungguh pasti bisa. Karena
Allah menghargai usaha hambanya.
Begitu berliku
perjalanan yang dirasakan oleh kelompok KKN Pendekar untuk bisa menapaki kaki
ke Negeri Sabah ini. Saat itu, waktu pelaksanaan KKN akan berjalan sebentar
lagi. Namun, kelompok saya belum mendapatkan surat balasan dari KRI Tawau.
Sebuah surat yang berisi perizinan untuk KKN di Tawau. Dari pihak Pengabdian
Kepada Masyarakat (PPM) pun memberi batas waktu. Jika kami belum ada surat
perizinan dari pihak sana, maka KKN Mandiri Internasional ini terpaksa bubar.
Kemudian, saya harus kembali ke kelompok KKN regular.
Sampai waktu
yang sudah ditentukan, pihak KRI Tawau belum memberikan surat balasan. Sebab,
masih ada yang perlu diperbaiki dari proposal kegiatan kelompok saya. Hingga
akhirnya, dari pihak PPM mengeluarkan file yang berisi daftar pembagian
kelompok KKN. Dari yang semula hanya terdapat 200 kelompok regular. Kali ini, file
tersebut tercantum nama mahasiswa yang mengikuti KKN Internasional Mandiri,
Kebangsaan dan bersama, in campuss juga wilayah perbatasan. Namun, nama
saya masih tercatat di kelompok KKN regular.
Berada dalam
ketidakpastian, begitulah yang saya rasakan. Hal tersebut membuat saya tetap
ikut serta untuk datang rapat di kelompok KKN regular, juga pergi mengunjungi
rumah dosen pembimbing. Di samping itu, saya juga mengurus kelompok KKN
Internasional. Lelah? Sudah pasti, karena saya ikut serta dalam dua kelompok.
Kendala perizinan
belum selesai, sudah ada lagi yang lain. kini tentang dana yang tak kunjung
ada. Kemana saya akan mencari sponsor untuk bisa pergi kesana? Waktu tersisa
tinggal satu bulan lagi. Berbagai instansi juga kemeterian saya kunjungi. Namun
hasilnya nihil. Tak habis akal, saya mengirimkan email untuk mengajukan kerja
sama ke berbagai instansi. Akan tetapi, tidak ada balasan sama sekali.
Sedih sudah
pasti, tapi saya tidak mau berputus asa begitu saja. Saya yakin, di balik ujian
yang di dapat dari kelompok KKN Pendekar ini pasti Tuhan memberikan jalan.
Tuhan Maha pengabul doa dan benar saja, salah satu teman saya mengatakan untuk
mengajukan proposal ke sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit. Sesudah itu,
teman saya mengabarkan bahwa proposal kelompok KKN kami diterima. Lalu kami
diminta datang ke kantornya pukul 10.00 WIB yang berlokasi di Plaza Indonesia.
Sehabis
mendapat kabar seperti itu, saya bersama Ahsanti, Hafizh dan Fahmi segera pergi
ke kantor PT. Minamas Plantation. Sesampainya di Plaza Indonesia saya
menukarkan Kartu Tanda Penduduk ke resepsionis. Lalu resepsionis itu memberikan
sebuah id card pengunjung agar bisa masuk ke dalam kantor tersebut.
Setelah itu,
saya masuk ke dalam sebuah ruangan yang hanya terdapat meja bundar, enam bangku
juga infokus. Di sana saya bertemu dengan Manajer Corporate Social
Responsibility (CSR ) PT. Minamas
Plantation Agus. Pertama, kami berkenalan terlebih dahulu dengan menyebutkan
nama, fakultas dan jurusan.
Kemudian kami
mulai mempresentasikan, Hafiz yang menjelaskan mengapa memilih KKN di Tawau,
Ahsanti yang menjelaskan visi dan misi serta anggaran. Lalu saya mempresentasikan program-program yang akan di
jalankan kelompok KKN Pendekar selama di Tawau, Sabah-Malaysia. Terakhir Fahmi
yang menjelaskan bentuk penawaran kerja sama.
Jujur saya
gugup dan takut salah bicara di depan manajer CSR. Saya pun bertanya kepada
teman-teman saya, apa mereka mempercayakan saya untuk bicara? Mereka pun
berkata iya, sembari menganggukkan kepala dan tersenyum kepada saya. Melihat mereka
seperti itu, saya pun tidak ingin mengecewakannya. Akhirnya, saya memberanikan
diri untuk menjelaskan program-program KKN Pendekar. Meskipun, jauh dari kata
baik.
Setelah
beberapa penawaran kerja sama, PT. Minamas Plantation ingin bekerjasama dan
memberikan dana kepada kelompok KKN Pendekar sebesar Rp32.500.000. Akan tetapi,
meskipun telah mendapat sponsor, saya
tetap mencari donasi dengan berkeliling Situ Gintung saat hari pekan.
Tak hanya itu, saya juga menjual baju-baju yang masih layak dipakai.
Perkara dana
sudah selesai dan surat dari KRI Tawau pun telah diberikan kepada kelompok KKN
Pendekar. Kini kami ingin memberitahukan kepada PPM. Bahwasannya, kami sudah
mendapat surat perizinan dari KRI tawau. Kami tidak tahu apakah masih diterima
atau tidak surat ini. Pasalnya, penentuan kelompok KKN sudah mutlak. Batas
waktu pengumpulan berkas perizinan pun sudah jatuh tempo.
Meskipun
begitu, kami tetap mencoba memberikan surat tersebut ke ruang PPM. Kemudian,
pihak PPM meminta kami untuk menunggu persetujuan dari kepala PPM Djaka
Badranaya. Berhari-hari kami telah
menunggu, berharap ada kepastian dari pihak PPM. Berkali-kali juga mengunjungi
ruang PPM, berhasrat bertemu dengan kepala PPM. Tapi tak kunjung temu. Sampai akhirnya,
salah satu temanku menelpon kepala PPM. Alhamdulilah, kepala PPM memberikan
izin KKN Pendekar untuk mengikuti KKN Mandiri Internasional di Tawau, Sabah-
Malaysia.
Mungkin kami
tidak akan bisa pergi mengabdi di luar negeri, jika kelompok ini tidak ada
kerja sama tim dan rasa kekompokan yang tinggi. Saling menguatkan itulah yang
menjadikan modal utamanya.
Begitulah
perjuangan saya bersama teman kelompok sebelum KKN. Hingga akhirnya bisa sampai
ke negeri Jiran bersama-bersama. Kali ini saya ingin menceritakan teman
kelompok saya selama KKN. Saya di CLC Tunas Perwira bersama dengan Deni Rahmad
Akbar, Lalu Satria Gunawan dan Robiatu Al Addawiyah. Namun, antara perempuan dengan
laki-laki kami berbeda rumah dan tidak tinggal satu atap. Kalau malam tiba,
kedua lelaki itu kembali ke rumahnya. Jadi saya hanya tinggal berdua saja dengan
Obie (sapaan akrabnya).
Jauh dari
keluarga, merekalah yang saya miliki selama di Tawau. Mereka bertiga sudah seperti
keluarga. Tempat saya berkeluh kesah juga berbagi cerita. Begitu banyak kisah
tentang mereka yang membuat saya ingin menceritakan dalam lembaran kertas ini.
Pertama, saya
ingin menceritakan tentang teman yang tinggal satu atap dengan saya, namanya
Obie. Saya merasa bahwa memiliki kemiripan dengannya. Kami berdua termasuk anak
yang tinggal di Ibu Kota dan manja. Hidup berkecukupan lalu harus merasakan
betapa susahnya tinggal sebagai perantau di suatu desa. Saya masih mengingat
pertanyaan yang ia lontarkan “bagaimana sih caranya mencuci baju?”. Begitulah yang
diucapkan oleh Obie.
Kemudian ada Satria,
masakan yang ia buat selalu lezat. Saat saya dan Obie sedang lelah untuk memasak,
Satrialah yang menggantikan untuk memasak. Lalu Deni, seorang lelaki yang
selalu mencairkan suasana. Selalu saja ada gurauan yang keluar dari bibirnya. Deni
memiliki sifat peduli kepada temannya. Saat itu, Saya, Obie dan Deni sedang
jalan-jalan mengelilingi kota Tawau. Namun saat pulang, mobil yang kami naiki
salah. Akhirnya kami turun di tengah jalan. Denilah yang paling panik saat itu,
padahal saya dan Obie biasa saja. mungkin menurutnya, ia ingin menjaga
teman-temannya.
Satu bulan di
negeri Jiran begitu banyak kisah yang tak terlupakan. Jujur kami berempat tidak
ada yang pandai memasak. Kali pertama memasak nasi goreng tapi hangus. Ada pula
yang memasak nasi goreng tapi rasanya
hambar. Lalu ada yang merebus mie instan, namun lodoh sampai air di panci
habis. Kemudian, ada yang memasak nasi tetapi airnya kurang, sehingga masih
berbentuk beras. Walaupun begitu kami tetap menghargai makanan yang telah
dibuat, kami tidak membuang makanan tersebut bagaimanapun rasa dan bentuknya. Karerna
saya tahu di luar sana masih banyak yang sulit untuk mencari makan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar