Minggu, 02 September 2018

Aku dan Keluarga Baru


Memilih KKN Mandiri Internasional memang bukanlah hal mudah. Karena, dari mencari teman kelompok, tempat, hingga mencari dana semuanya dilakukan mandiri. Tapi saya percaya, jika semua itu dilakukan dengan sungguh-sungguh pasti bisa. Karena Allah menghargai usaha hambanya.

Begitu berliku perjalanan yang dirasakan oleh kelompok KKN Pendekar untuk bisa menapaki kaki ke Negeri Sabah ini. Saat itu, waktu pelaksanaan KKN akan berjalan sebentar lagi. Namun, kelompok saya belum mendapatkan surat balasan dari KRI Tawau. Sebuah surat yang berisi perizinan untuk KKN di Tawau. Dari pihak Pengabdian Kepada Masyarakat (PPM) pun memberi batas waktu. Jika kami belum ada surat perizinan dari pihak sana, maka KKN Mandiri Internasional ini terpaksa bubar. Kemudian, saya harus kembali ke kelompok KKN regular.

Sampai waktu yang sudah ditentukan, pihak KRI Tawau belum memberikan surat balasan. Sebab, masih ada yang perlu diperbaiki dari proposal kegiatan kelompok saya. Hingga akhirnya, dari pihak PPM mengeluarkan file yang berisi daftar pembagian kelompok KKN. Dari yang semula hanya terdapat 200 kelompok regular. Kali ini, file tersebut tercantum nama mahasiswa yang mengikuti KKN Internasional Mandiri, Kebangsaan dan bersama, in campuss juga wilayah perbatasan. Namun, nama saya masih tercatat di kelompok KKN regular.­

Berada dalam ketidakpastian, begitulah yang saya rasakan. Hal tersebut membuat saya tetap ikut serta untuk datang rapat di kelompok KKN regular, juga pergi mengunjungi rumah dosen pembimbing. Di samping itu, saya juga mengurus kelompok KKN Internasional. Lelah? Sudah pasti, karena saya ikut serta dalam dua kelompok.

Kendala perizinan belum selesai, sudah ada lagi yang lain. kini tentang dana yang tak kunjung ada. Kemana saya akan mencari sponsor untuk bisa pergi kesana? Waktu tersisa tinggal satu bulan lagi. Berbagai instansi juga kemeterian saya kunjungi. Namun hasilnya nihil. Tak habis akal, saya mengirimkan email untuk mengajukan kerja sama ke berbagai instansi. Akan tetapi, tidak ada balasan sama sekali.

Sedih sudah pasti, tapi saya tidak mau berputus asa begitu saja. Saya yakin, di balik ujian yang di dapat dari kelompok KKN Pendekar ini pasti Tuhan memberikan jalan. Tuhan Maha pengabul doa dan benar saja, salah satu teman saya mengatakan untuk mengajukan proposal ke sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit. Sesudah itu, teman saya mengabarkan bahwa proposal kelompok KKN kami diterima. Lalu kami diminta datang ke kantornya pukul 10.00 WIB yang berlokasi di Plaza Indonesia.

Sehabis mendapat kabar seperti itu, saya bersama Ahsanti, Hafizh dan Fahmi segera pergi ke kantor PT. Minamas Plantation. Sesampainya di Plaza Indonesia saya menukarkan Kartu Tanda Penduduk ke resepsionis. Lalu resepsionis itu memberikan sebuah id card pengunjung agar bisa masuk ke dalam kantor tersebut.

Setelah itu, saya masuk ke dalam sebuah ruangan yang hanya terdapat meja bundar, enam bangku juga infokus. Di sana saya bertemu dengan Manajer Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Minamas Plantation Agus. Pertama, kami berkenalan terlebih dahulu dengan menyebutkan nama, fakultas dan jurusan.

Kemudian kami mulai mempresentasikan, Hafiz yang menjelaskan mengapa memilih KKN di Tawau, Ahsanti yang menjelaskan visi dan misi serta anggaran. Lalu saya  mempresentasikan program-program yang akan di jalankan kelompok KKN Pendekar selama di Tawau, Sabah-Malaysia. Terakhir Fahmi yang menjelaskan bentuk penawaran kerja sama.

Jujur saya gugup dan takut salah bicara di depan manajer CSR. Saya pun bertanya kepada teman-teman saya, apa mereka mempercayakan saya untuk bicara? Mereka pun berkata iya, sembari menganggukkan kepala dan tersenyum kepada saya. Melihat mereka seperti itu, saya pun tidak ingin mengecewakannya. Akhirnya, saya memberanikan diri untuk menjelaskan program-program KKN Pendekar. Meskipun, jauh dari kata baik.

Setelah beberapa penawaran kerja sama, PT. Minamas Plantation ingin bekerjasama dan memberikan dana kepada kelompok KKN Pendekar sebesar Rp32.500.000. Akan tetapi, meskipun telah mendapat sponsor, saya  tetap mencari donasi dengan berkeliling Situ Gintung saat hari pekan. Tak hanya itu, saya juga menjual baju-baju yang masih layak dipakai.

Perkara dana sudah selesai dan surat dari KRI Tawau pun telah diberikan kepada kelompok KKN Pendekar. Kini kami ingin memberitahukan kepada PPM. Bahwasannya, kami sudah mendapat surat perizinan dari KRI tawau. Kami tidak tahu apakah masih diterima atau tidak surat ini. Pasalnya, penentuan kelompok KKN sudah mutlak. Batas waktu pengumpulan berkas perizinan pun sudah jatuh tempo.

Meskipun begitu, kami tetap mencoba memberikan surat tersebut ke ruang PPM. Kemudian, pihak PPM meminta kami untuk menunggu persetujuan dari kepala PPM Djaka Badranaya.  Berhari-hari kami telah menunggu, berharap ada kepastian dari pihak PPM. Berkali-kali juga mengunjungi ruang PPM, berhasrat bertemu dengan kepala PPM. Tapi tak kunjung temu. Sampai akhirnya, salah satu temanku menelpon kepala PPM. Alhamdulilah, kepala PPM memberikan izin KKN Pendekar untuk mengikuti KKN Mandiri Internasional di Tawau, Sabah- Malaysia.

Mungkin kami tidak akan bisa pergi mengabdi di luar negeri, jika kelompok ini tidak ada kerja sama tim dan rasa kekompokan yang tinggi. Saling menguatkan itulah yang menjadikan modal utamanya.

Begitulah perjuangan saya bersama teman kelompok sebelum KKN. Hingga akhirnya bisa sampai ke negeri Jiran bersama-bersama. Kali ini saya ingin menceritakan teman kelompok saya selama KKN. Saya di CLC Tunas Perwira bersama dengan Deni Rahmad Akbar, Lalu Satria Gunawan dan Robiatu Al Addawiyah. Namun, antara perempuan dengan laki-laki kami berbeda rumah dan tidak tinggal satu atap. Kalau malam tiba, kedua lelaki itu kembali ke rumahnya. Jadi saya hanya tinggal berdua saja dengan Obie (sapaan akrabnya).

Jauh dari keluarga, merekalah yang saya miliki selama di Tawau. Mereka bertiga sudah seperti keluarga. Tempat saya berkeluh kesah juga berbagi cerita. Begitu banyak kisah tentang mereka yang membuat saya ingin menceritakan dalam lembaran kertas ini.

Pertama, saya ingin menceritakan tentang teman yang tinggal satu atap dengan saya, namanya Obie. Saya merasa bahwa memiliki kemiripan dengannya. Kami berdua termasuk anak yang tinggal di Ibu Kota dan manja. Hidup berkecukupan lalu harus merasakan betapa susahnya tinggal sebagai perantau di suatu desa. Saya masih mengingat pertanyaan yang ia lontarkan “bagaimana sih caranya mencuci baju?”. Begitulah yang diucapkan oleh Obie.

Kemudian ada Satria, masakan yang ia buat selalu lezat. Saat saya dan Obie sedang lelah untuk memasak, Satrialah yang menggantikan untuk memasak. Lalu Deni, seorang lelaki yang selalu mencairkan suasana. Selalu saja ada gurauan yang keluar dari bibirnya. Deni memiliki sifat peduli kepada temannya. Saat itu, Saya, Obie dan Deni sedang jalan-jalan mengelilingi kota Tawau. Namun saat pulang, mobil yang kami naiki salah. Akhirnya kami turun di tengah jalan. Denilah yang paling panik saat itu, padahal saya dan Obie biasa saja. mungkin menurutnya, ia ingin menjaga teman-temannya.

Satu bulan di negeri Jiran begitu banyak kisah yang tak terlupakan. Jujur kami berempat tidak ada yang pandai memasak. Kali pertama memasak nasi goreng tapi hangus. Ada pula yang memasak nasi  goreng tapi rasanya hambar. Lalu ada yang merebus mie instan, namun lodoh sampai air di panci habis. Kemudian, ada yang memasak nasi tetapi airnya kurang, sehingga masih berbentuk beras. Walaupun begitu kami tetap menghargai makanan yang telah dibuat, kami tidak membuang makanan tersebut bagaimanapun rasa dan bentuknya. Karerna saya tahu di luar sana masih banyak yang sulit untuk mencari makan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar