Selasa, 07 November 2017

Cinta Beda Negara

Foto ini diambil ketika kami pergi ke Pulau Seribu, Minggu (20/9).

Ku awali pagi ini dengan sebuah tulisan. Kali ini aku ingin menceritakan tentang sosok yang sangat aku rindukan. Aku biasa memanggilnya dengan sebutan “Meurah”. Ia lelaki asal Banda Aceh yang memiliki nama gelar “Cut Meurah”. Teman-temanku sering kali menanyakan “kok cowo namanya Cut?” bahkan keluargaku juga menanyakan hal yang demikian. Aku hanya dapat menjawab memang seperti itu gelar yang keluarganya miliki. Dari mulai ayah, paman, kakek, dan keluarga-keluarganya terdahulu memiliki nama gelar “Cut”.

Minggu, 20 Agustus kami pergi ke sebuah pulau yang berada di Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Setelah beberapa hari pulang dari Pulau Seribu, Ia mengabarkanku bahwa mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Perasaan senang dicampur rasa sedih saat itu aku rasakan. Ya aku senang Ia mendapatkan beasiswa tersebut, karena aku juga sempat berdoa kepada Tuhan agar dia lolos dan mendapatkan beasiswa tersebut. Namun, tak munafik diri ini pun sulit untuk jauh darinya.

Kini sudah sebulan lebih 11 hari Ia meninggalkanku. Tetapi, Ia meninggalkanku bukan karena mencari wanita lain, melainkan untuk menempuh studi S1 di luar negeri. Ia melanjutkan kuliahnya di sebuah negara yang memiliki dua benua yaitu Turki, tepatnya di Universitas Sakarya. Awalnya Ia adalah mahasiswa di sebuah kampus Pembaharu, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Namun sekarang pindah ke Turki dengan mengambil Jurusan Sejarah Sastra Turki.

Sulit sekali menjalani hubungan jarak jauh, terlebih  kami berbeda negara bahkan beda benua. Perbedaan waktu lima jam antara Turki dan Indonesia terkadang juga menjadi penghalang untuk berkomunikasi. Di mana, saat Turki masih malam, Indonesia sudah pagi. Kemudian ketika Turki sudah pagi, Indonesia siang hari.

Jauh dengannya membuat hari-hariku dirundung rasa rindu. Semakin hari rindu ini semakin mendalam. Dan semakin sakit ketika rindu datang namun tak dapat bertemu. Kala rindu, aku hanya dapat melihat foto-foto saat kami bersama, membaca buku harian yang Ia tulis sejak masa Sekolah Menengah Atas (SMA), dan mengajaknya untuk video call.

Aku sempat belajar di perkuliahan yang membahas similarity dalam hubungan manusia dengan komunikasi. Di mana hubungan manusia akan terasa dekat jika memiliki kesamaan atau kemiripan, seperti hobi contohnya. Tidak peduli seberapa pun jauhnya jarak ketika memiliki kesamaan maka akan terasa dekat. Kami sama-sama menyukai dunia literasi, itulah mengapa kami sempat satu organisasi di Lembaga Pers Mahasiswa UIN Jakarta.

Memang sulit untuk menjalani hubungan jarak jauh ini. Harus ada kepercayaan antara satu dan yang lainnya. Karena kuncinya memang satu yaitu kepercayaan. Aku di sini memberikan kepercayaan terhadapmu. Aku percaya kamu akan kembali ke Indonesia dan menemui kedua orang tuaku, aku pun juga percaya kamu tidak akan macam-macam dengan yang lain. Maka, ketika aku memberikanmu kepercayaan, kamu pun harus menjaga kepercayaan yang telah aku berikan ini.


Selamat belajar dan berjuang di negeri dua  benua duhai kekasihku. Aku menunggumu pulang ^_^