Meskipun prinsip-prinsip jurnalisme—kebenaran, verifikasi, keseimbangan, dan kemandirian dari kekuasaan—bisa dibilang universal, di beberapa
media prinsip itu ditafsirkan
melalui prisma budaya lokal negara tempat media mengudara.
Seperti lima organisasi berita di Indonesia dan Malaysia menyarankan berbagai
pendekatan untuk memahami hubungan antara jurnalisme dan Islam.
Sebagai contoh para
penulis di Majalah Sabili—1984 sampai 2013—mereka dipekerjakan atas
kemampuan mereka berdakwah. Mereka percaya bahwa jalan keluar dari
penyakit-penyakit masyarakat modern terletak dari penerapan syariat Islam. Juga
Republika, sebuah koran Indonesia yang didirikan untuk melayani
komunitas Muslim.
Sabili
merupakan media yang pertama kali menerbitkan tulisannya pada 1984 dan gulung
tikar April 2013. Jenis Islam yang dipresentasikannya disebut skripturalis,
literalis bahkan fundamentalis. Politik Majalah Sabili dapat digambarkan
secara beragam, sensasional, provokatif dan cenderung menawarkan teori
konspirasi pendukung Perang Salib dan Zionis. (hal. 38)
Seperti pada Mei 2002,
sampul depan Sabili menampilkan gambar bangunan Institut Agama Islam
Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dengan tajuk utama “IAIN: Ingkar
Allah, Ingkar Nabi.” Juga menuduh kelompok studi di IAIN seperti Forum
Mahasiswa Ciputat (Formaci) mendukung sekularisasi, menolak penerapan syariat,
mendukung pernikahan orang beda agama, dan mengabaikan perintah agama untuk
mengajak pada kebaikan dan melarang perbuatan jahat.
Hal tersebut membuat
pihak IAIN Syarif Hidayatullah bereaksi. Rektor periode 1998-2006 Azyumardi
Azra datang menemui seorang pemilik Sabili Rahmat Ismail untuk meminta
klarifikasi. Lalu Azra juga bertanya apakah Majalah Sabili sengaja menyebutnya
murtad?. “Rahmat meminta maaf dan memohon ampun.” Azra pun memberikan nasihat “Tahan
dirilah dari perbuatan menjelek-jelekkan orang lain.”
Janet Steele menilai,
contoh kasus tersebut mengisyaratkan bahwa berita di Sabili sama sekali
tidak berimbang. Menanggapi hal tersebut, Pemimpin Redaksi terakhir Sabili
Eman Mulyatman berpendapat bahwa media lain juga melakukan hal yang sama “Mereka
juga berpihak.” Tempo berpihak dan Sabili tentu punya misi
sendiri. Visi dan misinya adalah kebijakan editorial. (hal. 68)
Lain hal dengan Malaysiakini.
Salah satu media Malaysia ini lebih mempresentasikan Islam dalam konteks
sekuler, meski mereka menolaknya. Juga menolak disebut islami, bahkan editor Malaysiakini
selalu menjaga agar diskusi tentang agama berada di luar ruang redaksi.
Berita yang disajikan
oleh Malaysiakini bersifat multi etnis, ras, dan agama. Mereka menolak
membicarakan agama dalam konteks laporan-laporannya. Wajar jika reporter di Malaysiakini
tetap akan diminta menulis topik-topik kemurtadan agama tertentu meski hal itu
membuatnya gelisah, lantaran akan tidak disukai oleh pembacanya yang masih
terkait dengan agama yang ditulis.
Malaysiakini selalu
menyoroti politisasi Islam di Malaysia dalam segala laporan-laporannya. Mantan
editor Malaysiakini berkata “Ada islamisasi dalam segala hal. Fokus kami
selalu dianggap cenderung anti-pemerintah, tetapi sebenarnya juga
anti-islamisasi. Dan orang Melayu di Malaysiakini adalah Melayu
liberal.”
Namun, beberapa
reporter Malaysiakini menyatakan seorang Islam yang konservatif dan menganggap
bahwa Agama selalu melatarbelakangi pemikirannya. Meskipun di Malaysiakini
Ia tetap bekerja dengan sensor yang ketat dan tetap melaporkan berita dengan
fakta-fakta yang seharusnya.
Demikian ulasan dan
fakta yang disajikan Janet Steele dalam buku laporannya Jurnalisme
Kosmopolitan di Negara-Negara Muslim Asia Tenggara. Buku ini hasil penelitiannya di Indonesia dan Malaysia kurun
20 tahun. Penelitian ini menggunakan wawancara dan pengamatan
partisipan di lima penerbitan yang mewakili hubungan yang berbeda antara
jurnalisme dan Islam.
Buku penelitian ini
tetap enak dibaca. Akan tetapi, karena buku ilmiah laporan penelitian jadi penyusunan
bahasa perlu dipahami ulang.