Beberapa pengunjung tengah memerhatikan
patung karya Ichwan Noor, di Gedung A Galeri Nasional, Senin (18/9). Pameran
yang bertemakan “Skala” diikuti oleh 46 perupa dan sudah ketiga kalinya
diadakan sejak tahun 2011.
Patung seniman RJ.
Katamsi berwarna coklat keemasan yang berukuran lebih dari dua kali tinggi
manusia berdiri tegap menampilkan wajah serius. Kemudian
patung kecil berwarna merah terlihat sedang berjalan dengan patung hewan di
sampingnya. Adapula, patung wanita berwarna biru yang memegang
tas belanja. Terakhir, patung anak laki-laki berwarna hijau yang
menendang bola berada di depannya.
Keempat patung terpampang menyambut pengunjung di luar gedung
Galeri Nasional Indonesia. Patung warna-warni tersebut menyilaukan pandangan
diterpa sinar matahari, Senin siang itu (18/9). Pameran Trienal Seni Patung
Indonesia dengan tema Skala ini menampilkan 46 perupa dari seluruh Indonesia.
Lebih masuk ke
dalam ruang pameran, di sisi kiri pintu masuk Gedung A terlihat seorang wanita sibuk
swafoto berlatar belakang patung karya seniman Eko Nugroho. Ada yang berbeda
dengan kaya Eko berjudul “Demokrasi?” ini, yaitu terdiri dari beberapa patung
sarat arti. Patung pertama berbentuk hewan berkepala tiga wajah manusia, persis
di sampingnya ada patung manusia yang memikul papan
nama di tangan kanan.
Sebelahnya
persis terdapat patung manusia berkepala gedung parlemen yang duduk di atas
bola, terakhir patung yang terbesar berbentuk prajurit berkepala robot dengan
tangan kepiting siap mencapit. Patung-patung ini terbuat dari bahan serat kaca,
dan besi serta tambahan bahan kayu. Patung yang dipamerkan kebanyakan terbuat
dari besi, seng, las, serta kayu.
Bukan hanya itu,
patung lainnya menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan dalam kehidupan
sehari-hari. Seperti karet ban, alumunium, bambu, bahan nilon hingga kancing
baju menjadi pilihan para seniman dalam membuat karya seni patung. “Banyak hal
yang tidak terpikirkan, seperti patung dari karet ban bisa menjadi patung naga
ini,” ungkap salah satu pengunjung pameran, Citra Pradipta, Senin (18/9). Tak
lupa pilihan warna patung pun yang beragam tidak melulu dominasi warna gelap menjadikan
pameran ini terlihat lebih hidup tidak kaku.
Memasuki gedung
A, empat buah patung berjejer menarik pandangan mata. Patung berbentuk rangkaian
daun tinggi menjulang kemudian membentuk bukit bernama “The Body Line in the Body”.
Terlihat menarik ketika Patung bernama “Putiaso” yang tampak seperti bongkahan hati
besar dengan hiasan pita merah di tengahnya. Dua patung lainnya terbuat dari
batu berukuran 60 cm dan 70 cm dengan nama yang sama yaitu “Let Your Boat of the
Life be Light”.
Lanjut menyusuri
ruangan menuju ruang tengah, terdapat patung bernama “Pengembala Negeri” karya
Wilman Masyur. Sesuai dengan nama patung, seniman ini menggambarkan sosok
Patung Presiden Republik Indonesia Joko Widodo berada di antara domba-domba
dengan tangan kiri memegang tongkat. Persis seperti kegiatan menggembalakan
hewan walaupun maksud sesungguhnya ialah pemimpin yang mengatur rakyat
Indonesia.
Pameran seni
patung ini menjadi referensi bagi pengunjung untuk berwisata akhir pekan.
Sekaligus menginformasikan bahwa Indonesia memiliki seniman-seniman patung
terkenal yang karyanya sudah mendunia. “Di luar negeri seniman-seniman
Indonesia sangat dihargai dan dihormati karyanya.” terang Koordinator Lapangan,
Rahendra, Senin (18/9).

