Sabtu, 29 Desember 2018

Gedung FAH Bocor


Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) mengalami perpindahan di Jl. Tarumanegara,
Pisangan, Ciputat sejak Maret 2017. Rabu, 12 November 2018 Gedung FAH mengalami
kebocoran di kala hujan datang. Tepatnya ruangan-ruangan di lantai 5 dan atap lantai 4.

Rusaknya atap sebagian besar karena dihantam angin dan tidak segera diperbaiki. Kebocoran
di Gedung FAH membuat mahasiswa terganggu. Lantaran, proses belajar mengajar menjadi
terhambat.

Kebocoran di FAH ini menuai kritik dari mahasiswa. Salah satunya mahasiswa dari Jurusan
Bahasa dan Sastra Arab Deni Rahmad Akbar. “Gedung baru kok sudah pada rusak,” ucapnya,
Selasa (25/12).

Menanggapi perihal kebocoran di FAH, Subbagian Administrasi Umum FAH Ahmadi Sahmi
Sitompul mengatakan bahwa kebocoran di FAH sudah terjadi sejak gedung tersebut
dibangun. “Namun baru dapat ditangani di akhir tahun ini,” terangnya, Minggu (16/12).
Ruang 507 misalnya, pihak kampus baru menindaklanjuti kebocoran pada Rabu (12/12).
Namun meskipun sudah diperbaiki, atap di lantai 4 dan 5 gedung FAH masih terlihat bolong
dan bocor.



5 W dan 1 H = What, Who, Where, When, Why, How

What (apa yang terjadi?) : Gedung FAH ini mengalami kebocoran
Who (siapa?) : Gedung Fakultas Adab dan Humaniora
Where (dimana?) : ruangan-ruangan di lantai 5 dan atap lantai 4
When (kapan?) : Rabu, 12 November 2018
Why (kenapa?) : Rusaknya atap sebagian besar karena dihantam angin dan tidak segera diperbaiki

How (bagaimana?) : Kebocoran di Gedung FAH membuat mahasiswa
terganggu. Lantaran, proses belajar mengajar menjadi
terhambat.

Alasan pemilihan angle karena gedung tersebut memprihatinkan. Lantaran, gedung tersebut
baru setahun dibangun. Namun, sudah bocor. Pihak kampus pun baru menindaklanjuti,

Minim Sistem Kontrol Perpustakaan


Seorang mahasiswa tengah mengambil buku di PP UIN Jakarta, Senin (17/12). Sayang, koleksi buku tak lengkap karena masih ada mahasiswa yang belum mengembalikan tepat waktu.

Rak demi rak, Agie Anditia Felangi mencari buku bertema komunikasi. Sayang, buku yang ia
maksud tak kunjung ia temukan. Dengan rasa berat, ia pun langsung meninggalkan Perpustakaan
Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidikom). Padahal saat mencari buku pada katalog
dalam jaringan (daring) melalui komputer perpustakaan fakultas (PF) buku tersebut tercatat
“tersedia”.

Tak habis akal, Agie segera mengunjungi Pusat Perpustakaan (PP) Universitas Islam Negeri
(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang persis di depan Fidikom. Hasil sama didapatkan Agie,
buku yang ia cari tak ditemukan. “Enggak kebagian sama yang lain, bukunya susah dicari,”
keluhnya, Kamis (13/12).

Hal serupa dirasakan Wahyuni. Yuni yang juga mahasiswi semester 6 Fidikom ini terlihat sedang
mencari buku di perpustakaan fakultasnya. Sayang pencariannya tak membuahkan hasil.
“Bukunya sering enggak ada,” katanya, Senin (17/12).

Berdasarkan data yang dihimpun, dari 51.201 total transaksi terakhir peminjaman di
Perpustakaan Fidikom, terdapat 267 buku yang belum dikembalikan. Sedangkan pada Januari
2018 tercatat 736 buku yang terlambat dikembalikan ke PP UIN Jakarta. Masih kurangnya
sistem pengawasan perpustakaan di UIN Jakarta membuat adanya mahasiswa lambat
mengembalikan buku.

Dalam Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Pelaksanaan Undang-Undang No. 43 Tahun
2007 pasal 50 ayat 1-5 pengawasan perpustakaan meliputi supervisi yang dilakukan oleh
pimpinan perpustakaan dan lembaga perwakilan pihak-pihak. Penyelenggara atau masyarakat
melakukan evaluasi terhadap program perpustakaan. Sedangkan pelaporan dilakukan pimpinan
perpustakaan dan disampaikan kepada penyelenggara perpustakaan.

Menanggapi pengawasan perpustakaan, Kepala PP UIN Jakarta Amrullah Hasbana menjelaskan
bahwa PP UIN Jakarta memberlakukan denda Rp500 per hari. Padahal, dalam Peraturan Menteri
Keuangan (PMK) Republik Indonesia No. 168 Tahun 2017, bahwa denda keterlambatan
pengembalian buku besarannya Rp1000. “Denda sebagai cara agar mahasiswa dapat disiplin dan
bisa mengembalikan tepat waktu,” terangnya, Kamis (20/12).

Berbeda dengan PP, Perpustakaan Fidikom tidak memberlakukan denda bagi peminjam yang
terlambat. Kepala Perpustakaan Fidikom Yarma berdalih tidak memberi denda karena merasa
kasihan kepada mahasiwa. “Yang penting bukunya dikembalikan,” ucapnya, Rabu (19/12).

Terkait keamanan, Staf Layanan Sirkulasi Perpustakaan Fidikom Nuryadi Fasah mengatakan,
keamanan di Perpustakaan Fidikom kurang terjamin. Mereka belum memiliki alat deteksi buku
di pintu keluarnya seperti di PP dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.

Salah seorang Pustakawan Ahli Muda Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI)
Abdul Rahim mengatakan, pemberian peringatan keterlambatan seharusnya dapat melalui
telepon. Cara itu dilakukan guna kemudahan dalam mengurus peminjaman. “Perpanjangan
peminjaman juga dapat dilakukan via telepon,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya, Gedung
Perpusnas, Jumat (14/12).

Hardnews (Media Cetak)

5 W dan 1 H = What, Who, Where, When, Why, How
What (apa yang terjadi?) : di Perpustakaan Fidikom, terdapat 267 buku yang belum
dikembalikan. Sedangkan pada Januari 2018 tercatat 736
buku yang terlambat dikembalikan ke PP UIN Jakarta.
Who (siapa?) : Mahasiswa: Agie Anditia Felangi dan wahyuni
Where (dimana?) : Perpustakaan Fidikom dan pusat perpustakaan UIN

Jakarta

When (kapan?) : Kamis, 13 Desember 2018
Why (kenapa?) : Perpustakaan Fidikom tidak memberlakukan denda bagi

peminjam yang terlambat.

How (bagaimana?) : Masih kurangnya sistem pengawasan perpustakaan di
UIN Jakarta membuat adanya mahasiswa lambat
mengembalikan buku.

Alasan memilih angle ini karena Sistem pengawasan di perpustakaan UIN Jakarta dinilai masih
minim. Mahasiswa menjadi sulit untuk mendapatkan buku yang dicarinya.

Budaya Titip Absen Mahasiswa


Seorang mahasiswa tengah mengisi daftar hadirnya sendiri, Senin (17/12). Mahasiswa yang memegang daftar hadir menjadi peluang untuk menitipkan absensi.

Daftar hadir merupakan bagian dari penilaian formatif dosen kepada mahasiswa. Namun, banyak
dosen yang membiarkan mahasiswanya untuk mengisi daftar hadirnya sendiri. Salah satunya di
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Kebiasaan seperti itu, membuat mahasiswa
bermalas-malasan untuk datang kuliah dan menitipkan daftar hadir kepada temannya.

Titip absen rupanya telah menjadi kebiasaan yang sudah mengakar di kalangan mahasiswa,
khususnya mahasiswa semester atas. Alasannya pun beragam, mulai dari jalan yang macet,
terlambat bangun, tidak tertarik mengikuti mata kuliah, hingga karena bobot mata kuliah yang
dianggap tidak wajib.

Tidak adanya pengecekan kembali oleh dosen membuat daftar hadir mudah dicurangi
mahasiswa. Seperti Mahasiswa Jurusan Sosiologi Rachmat Nurdiansyah menurutnya semester
enam ini telah enam kali menitipkan daftar hadir. “Paling sering kesiangan dan telat karena
macet,” katanya, Selasa (18/12). Meskipun telah enam kali menitipkan daftar hadir, ia memiliki
nilai mata kuliah yang sama seperti temannya.

Rachmat bercerita, kebiasaan dosen yang memberikan daftar hadir langsung kepada mahasiswa
menjadi peluang untuknya menitip absensi. Saat malas atau bangun kesiangan ia cukup bermodal
chat untuk mendapatkan daftar kehadirannya. Ia cukup memberitahukan temannya bahwa tidak
dapat hadir mengikuti mata kuliah tersebut. Kemudian, meminta agar mengisi daftar hadirannya.

Lain hal dengan Rachmat, wanita yang kerap disapa Wanda menceritakan, bahwa mata kuliah
yang ia ikuti pada sore hari membuatnya malas untuk pergi ke kampus. Sehingga, menitipkan
daftar hadir menjadi alternatif untuk menyelamatkan nilainya. Jarak yang jauh dari rumahnya di
Kebon Jeruk membuatnya ogah-ogahan ke kampus. “Males ke kampus kalau cuma satu mata
kuliah doang,” ujarnya, Senin (17/12).

Budaya titip absen ini kadang membuat jengkel mahasiswa yang dititipi, semisal Mega
mahasiswi yang suka dititipkan absensi oleh temannya. “Sekali dua kali sih gapapa, kalau udah
keseringan males juga,” keluhnya, Senin (17/12).

Menanggapi kebiasaan mahasiswa yang menitip absen ini, Wakil Rektor Bidang Akademik
Fadhilah Suralaga menyayangkan sikap dosen yang memberikan daftar hadir langsung kepada
mahasiswa. Padahal, daftar hadir mahasiswa menjadi tanggung jawab dosen. Sebab, daftar hadir
ini merupakan cara dosen mendidik mahasiswa supaya disiplin.

Menurut Fadhilah, dosen mengajar mahasiswa tak hanya untuk menjadi orang yang pintar. Tapi,
dosen pun bertanggung jawab untuk menjadikan mahasiswa orang yang berkarakter. Salah
satunya menanamkan sifat jujur, bertanggung jawab, dan berkomitmen. Ia menegaskan, jika
mahasiswa terbiasa curang dalam melaksanakan perkuliahannya, maka sifat ini akan menjadi
kebiasaan. “Tidak masuk bilang masuk, punya tugas menyuruh orang lain. Bagaimana mau jadi
orang yang jujur,” ungkapnya ketika ditemui di ruangannya, Selasa, (18/12).

5 W dan 1 H = What, Who, Where, When, Why, How
What (apa yang terjadi?) : Banyak dosen yang membiarkan mahasiswanya untukmengisi daftar hadirnya sendiri
Who (siapa yang melakukan?) : Mahasiswa
Where (dimana?) : di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
When (kapan kejadian terjadi?) : Senin (17/12) atau Senin 17 Desember 2018.
Why (kenapa?) : Alasannya pun beragam, mulai dari jalan yang macet, terlambat bangun, tidak tertarik mengikuti mata kuliah,hingga karena bobot mata kuliah yang dianggap tidakwajib.
How (bagaimana?) : Tidak adanya pengecekan kembali oleh dosen membuat daftar hadir mudah dicurangi mahasiswa.

Alasan pemilihan angle karena saya melihat begitu banyak mahasiswa yang melakukan titip
absen. Sehingga, titip absen sudah menjadi budaya yang tidak baik di kalangan mahasiswa. Oleh
karena itu, saya tertarik membuat berita mengenai titip absen. Dimana, dalam berita ini beragam
alasan mahasiswa titip absen.