Hiduplah seolah mati besok, belajarlah
seolah hidup selamanya, begitulah yang dikatakan oleh Mahatma Gandhi.
Dari sini saya belajar arti bersyukur
yang sesungguhnya. Saya juga belajar untuk tidak mengeluh dalam kondisi apapun.
Ketika sekolah dahulu, saya mendapatkan sekolah yang cukup layak di Jakarta.
Namun, saat ini saya melihat anak-anak ibu pertiwi belajar di tempat yang
seperti “kandang ayam”. Bangunan yang terbuat dari triplek dan kayu. Lantai
beralaskan tanah serta atap sekolah dari asbes yang sudah bolong. Sekolah CLC Tunas
Perwira juga tidak ada listrik, jika siang kepanasan ditambah udara berdebu. Jika
hujan lantai menjadi becek.
Sekolah tempat saya mengajar CLC Tunas
Perwira memiliki sistem kelas rangkap. Dimana, kelas Taman Kanak-Kanak digabung
dengan kelas satu SD, kelas tujuh Sekolah Menengah Pertama digabung dengan
kelas delapan. Tak hanya itu, di sini juga kelas 5 dan 6 digabung satu ruangan tanpa ada
sekat. Kelas tujuh, delapan dan sembilan juga digabung menjadi satu ruangan.
Hal ini yang membut kadang-kadang kelas menjadi terdengar sangat berisik dan tidak
kondusif.
Tapi dibalik semua itu, mereka sangat
antusias dalam belajar. Mereka tidak ada yang pernah datang terlambat ke
sekolah. Padahal, jarak antara rumah ke sekolah Tunas Perwira cukup jauh. Mereka
juga harus menunggu datangnya bus yang cukup lama. Walaupun begitu, hal itu
tidak menyurutkan niat mereka untuk
belajar.
Tunas Perwira sebuah sekolah yang
minim guru. Di sana hanya ada empat orang guru yang mengajar. Dua laki-laki dan
dua perempuan. Kadang kala, Guru-guru tersebut mengajar dua kelas sekaligus. Untuk
pengurusan Orientasi Siswa Intra Sekolah di CLC
Tunas Perwira pun tidak ada. Hal ini yang membuat saya dan teman-teman
untuk membuat OSIS yang akan membantu mengurus sekolah juga membantu guru.
Jika saya menjadi bagian dari penduduk
di sini. Merasakan apa yang mereka rasakan dan menjalani apa yang mereka
jalani. Tentunya, saya ingin tempat ini menjadi lebih baik lagi. Anak-anak
Indonesia dapat merasakan pendidikan yang layak. Seperti anak-anak yang
bersekolah di Indonesia.
Saya dan teman-teman kelompok
mengadakan program Pemberdaya Pemuda Berdikari, dengan memberi pelatihan
menulis berita. Saya harap, dengan memberikan pelatihan tersebut, mereka dapat
mengeluarkan aspirasinya. Sampai suara mereka di dengar oleh pemerintah ataupun
masyarakat Indonesia.
Terakhir, saya berharap anak-anak
Indonesia bisa kembali ke tanah air. Karena bisa kembali ke Indonesia adalah
salah satu mimpi dari mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar