Minggu, 02 September 2018

Berawal dari Keinginan untuk Keluar Negeri

Awalnya, tujuan saya untuk ikut Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Internasional di daerah Tawau, Sabah-Malaysia karena keinginan saya untuk bisa keluar negeri. Saat itu saya berpikir, semakin jauh melangkah maka akan banyak pengalaman-pengalaman baru yang datang. Akan tetapi, setelah saya melihat langsung bagaimana kondisi Warga Negara Indonesia. Khususnya, anak-anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang ada di Tawau, begitu banyak yang belum mendapatkan pendidikan layak. Terlebih, di tempat saya mengabdi di Community Learning Center (CLC) Tunas Perwira.

Kali pertama melihat kondisi sekolah tempat saya mengajar, hati ini bertanya kenapa saya yang harus di tempatkan di CLC Tunas Perwira? Kenapa bukan yang lain? Saya pun tidak bisa menolak karena ini sudah menjadi keputusan Konsulat Republik Indonesia (KRI) Tawau. Kelompok yang tadinya berjumlah 12 orang, kini dipecah menjadi tiga bagian. Ada yang di CLC Merotai, Balung River dan saya beserta tiga teman yang lain di Tunas Perwira.

Mulanya saya ingin seperti teman yang di tempatkan di  CLC Merotai dan Balung River. Namun semua keinginan itu hilang. Semua itu terjadi saat saya sedang menuju tempat tinggal di Kampung Rangu. Di sana ada anak-anak yang berlari mengejar mobil yang saya naiki. Mereka berlari sembari melambaikan tangan dan tersenyum. Saya yang berada di dalam mobil pun sontak melambaikan tangan juga. Ya, kedatangan saya di sambut dengan hangat oleh mereka. Setibanya saya di rumah, anak-anak yang berlari tadi menghampiri saya dan bersalaman.

Anak-anak TKI di Malaysia sama dengan anak Indonesia yang lain. Hanya saja nasib mereka yang berbeda. Mereka tinggal di negara Malaysia dan tidak memiliki dokumen. Hal itu, yang membuat mereka seringkali ditangkap oleh polisi Malaysia. Ada salah satu murid saya yang menceritakan, saat pagi-pagi buta ada seorang yang berpakaian polisi datang ke rumahnya. Ia pun langsung melarikan diri dari rumahnya.

Mendengar langsung cerita dari anak-anak penerus bangsa ini, bahkan melihat langsung kehidupannya. Betapa sulitnya hidup di negera asing. Tapi semua itu tidak menurunkan semangat mereka untuk belajar. Mereka masih bisa tertawa dalam kondisi apapun. Hal itu yang menjadi alasan saya mengikuti KKN Mandiri Internasional. Saya ingin melihat tawa dan candanya putra-putri bangsa Indonesia.

Selain itu, saya ingin mengenalkan mereka tentang Indonesia yang kaya akan sumber alam ini. Karena masih banyak yang mereka tidak tahu tentang Indonesia dan budayanya. Tak hanya itu, saya juga ingin mereka mendapatkan pendidikan yang layak. Sebagaimana yang dirasakan oleh anak-anak di Indonesia.
Kalau dikatakan kompetensi, tidak juga. Di sana saya juga perlu banyak belajar. 

Hal yang saya lakukan di sana setiap hari Senin sampai Jumat mengajar anak-anak di CLC Tunas Perwira. Setelah jam pulang sekolah, mereka ke rumah saya untuk belajar tambahan, ada yang belajar matematika, bahasa Inggris dan IPA. Selain belajar, mereka juga sembari bermain, ada yang bermain UNO, scrabble dan monopoli. Jika waktu sudah menunjukan Pukul 16.00 WIB mereka sudah harus kembali kerumahnya. Karena bus sekolah sudah menjemputnya.

Khusus di hari Selasa, selepas jam pulang sekolah saya mengajarkan anak-anak yang mau belajar membaca puisi. Saya ingin, salah satu dari anak-anak itu bisa mengikuti lomba puisi dan mengharumkan nama Indonesia.

Setiap Jumat saya mengajak anak-anak untuk belajar membaca buku Iqra dan Alquran di rumah. Hidup di tempat yang mayoritas Katolik membuat mereka minim pelajaran agama Islam. Bahkan, ada anak kelas enam Sekolah Dasar (SD) yang masih belajar buku Iqra. Adapula yang sudah sampai usia pada tahap kedewasaan, tapi belum mampu membaca Alquran dan salat.

Akhirnya saya pun mengajak mereka untuk belajar mengaji bersama di rumah. Saya ingin kenalkan mereka tentang Islam. Mereka pun antusias untuk ikut mengaji bersama. Bahkan ada yang ingin, namun memiliki kendala dana. Akhirnya, saya dan ketiga teman yang lain berinisiatif memberikan ia biaya untuk menaiki bus.

Sebelum pergi ke tempat tujuan KKN, tentu sudah ada rencana-rencana yang sudah di susun rapi dalam bentuk proposal. Dalam program pendidikan yaitu menjadi pengajar CLC, cerita bersama wali murid, pemberdayaan pemuda, rumah baca, dan penyuluhan anti narkoba. Kemudian dalam rencana dalam program agama adalah bina baca Alquran. Terakhir, dan program budaya ada Hari Ulang Tahun (HUT) RI, latihan pengenalan budaya dan post to post.

Jujur, sebelum mengikuti KKN, saya termasuk pribadi yang tidak mandiri. Wajar saja, saya tidak pernah jauh dari orang tua. Mencuci baju, mencuci piring setelah makan jarang sekali saya melakukan saat di rumah. Sampai-sampai saya tidak pernah yang namanya memasak nasi. Tak hanya itu, saya tidak bisa memasak.

Banyak pelajaran yang saya dapatkan setelah satu bulan mengikuti KKN, semua ini mengajarkan saya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Pribadi yang harus menghadapi masalah apapun itu. Saya menempati tempat tinggal yang memang tidak ada barang apapun. Jika di Jakarta saya bisa tidur di kasur yang empuk. Tapi di sini, saya tidur hanya beralaskan kain saja. Malah, baju rompi saya gunakan untuk dijadikan bantal. Terakhir, saya tidak pernah mengajar di sekolah. Ini adalah pengalaman baru yang saya dapatkan di KKN.

Setelah ikut KKN saya menjadi orang yang lebih menghargai makanan. Sebab, di sana setiap harinya saya hanya memakan telur, nasi goreng, dan makanan siap saji seperti sarden dan mie instan. Hanya itulah, makanan saya selama satu bulan menjalani KKN. Selesai ikut KKN, saya di rumah menjadi suka memasak, sampai orang tua saya sendiri heran dengan sikap saya sehabis KKN. KKN mengajarkanku arti bersyukur yang sesungguhnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar