Awalnya,
tujuan saya untuk ikut Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Internasional di daerah
Tawau, Sabah-Malaysia karena keinginan saya untuk bisa keluar negeri. Saat itu
saya berpikir, semakin jauh melangkah maka akan banyak pengalaman-pengalaman
baru yang datang. Akan tetapi, setelah saya melihat langsung bagaimana kondisi
Warga Negara Indonesia. Khususnya, anak-anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang
ada di Tawau, begitu banyak yang belum mendapatkan pendidikan layak. Terlebih, di
tempat saya mengabdi di Community Learning Center (CLC) Tunas Perwira.
Kali
pertama melihat kondisi sekolah tempat saya mengajar, hati ini bertanya kenapa
saya yang harus di tempatkan di CLC Tunas Perwira? Kenapa bukan yang lain? Saya
pun tidak bisa menolak karena ini sudah menjadi keputusan Konsulat Republik
Indonesia (KRI) Tawau. Kelompok yang tadinya berjumlah 12 orang, kini dipecah
menjadi tiga bagian. Ada yang di CLC Merotai, Balung River dan saya beserta
tiga teman yang lain di Tunas Perwira.
Mulanya
saya ingin seperti teman yang di tempatkan di
CLC Merotai dan Balung River. Namun semua keinginan itu hilang. Semua
itu terjadi saat saya sedang menuju tempat tinggal di Kampung Rangu. Di sana ada
anak-anak yang berlari mengejar mobil yang saya naiki. Mereka berlari sembari
melambaikan tangan dan tersenyum. Saya yang berada di dalam mobil pun sontak
melambaikan tangan juga. Ya, kedatangan saya di sambut dengan hangat oleh
mereka. Setibanya saya di rumah, anak-anak yang berlari tadi menghampiri saya
dan bersalaman.
Anak-anak
TKI di Malaysia sama dengan anak Indonesia yang lain. Hanya saja nasib mereka
yang berbeda. Mereka tinggal di negara Malaysia dan tidak memiliki dokumen. Hal
itu, yang membuat mereka seringkali ditangkap oleh polisi Malaysia. Ada salah
satu murid saya yang menceritakan, saat pagi-pagi buta ada seorang yang
berpakaian polisi datang ke rumahnya. Ia pun langsung melarikan diri dari
rumahnya.
Mendengar
langsung cerita dari anak-anak penerus bangsa ini, bahkan melihat langsung kehidupannya.
Betapa sulitnya hidup di negera asing. Tapi semua itu tidak menurunkan semangat
mereka untuk belajar. Mereka masih bisa tertawa dalam kondisi apapun. Hal itu
yang menjadi alasan saya mengikuti KKN Mandiri Internasional. Saya ingin
melihat tawa dan candanya putra-putri bangsa Indonesia.
Selain
itu, saya ingin mengenalkan mereka tentang Indonesia yang kaya akan sumber alam
ini. Karena masih banyak yang mereka tidak tahu tentang Indonesia dan
budayanya. Tak hanya itu, saya juga ingin mereka mendapatkan pendidikan yang
layak. Sebagaimana yang dirasakan oleh anak-anak di Indonesia.
Kalau
dikatakan kompetensi, tidak juga. Di sana saya juga perlu banyak belajar.
Hal
yang saya lakukan di sana setiap hari Senin sampai Jumat mengajar anak-anak di
CLC Tunas Perwira. Setelah jam pulang sekolah, mereka ke rumah saya untuk
belajar tambahan, ada yang belajar matematika, bahasa Inggris dan IPA. Selain
belajar, mereka juga sembari bermain, ada yang bermain UNO, scrabble dan monopoli.
Jika waktu sudah menunjukan Pukul 16.00 WIB mereka sudah harus kembali
kerumahnya. Karena bus sekolah sudah menjemputnya.
Khusus
di hari Selasa, selepas jam pulang sekolah saya mengajarkan anak-anak yang mau
belajar membaca puisi. Saya ingin, salah satu dari anak-anak itu bisa mengikuti
lomba puisi dan mengharumkan nama Indonesia.
Setiap
Jumat saya mengajak anak-anak untuk belajar membaca buku Iqra dan Alquran di
rumah. Hidup di tempat yang mayoritas Katolik membuat mereka minim pelajaran
agama Islam. Bahkan, ada anak kelas enam Sekolah Dasar (SD) yang masih belajar buku
Iqra. Adapula yang sudah sampai usia pada tahap kedewasaan, tapi
belum mampu membaca Alquran dan salat.
Akhirnya saya pun mengajak mereka
untuk belajar mengaji bersama di rumah. Saya ingin kenalkan mereka tentang
Islam. Mereka pun antusias untuk ikut mengaji bersama. Bahkan ada yang ingin, namun
memiliki kendala dana. Akhirnya, saya dan ketiga teman yang lain berinisiatif memberikan
ia biaya untuk menaiki bus.
Sebelum
pergi ke tempat tujuan KKN, tentu sudah ada rencana-rencana yang sudah di susun
rapi dalam bentuk proposal. Dalam program pendidikan yaitu menjadi pengajar
CLC, cerita bersama wali murid, pemberdayaan pemuda, rumah baca, dan penyuluhan
anti narkoba. Kemudian dalam rencana dalam program agama adalah bina baca Alquran.
Terakhir, dan program budaya ada Hari Ulang Tahun (HUT) RI, latihan pengenalan
budaya dan post to post.
Jujur,
sebelum mengikuti KKN, saya termasuk pribadi yang tidak mandiri. Wajar saja,
saya tidak pernah jauh dari orang tua. Mencuci baju, mencuci piring setelah
makan jarang sekali saya melakukan saat di rumah. Sampai-sampai saya tidak
pernah yang namanya memasak nasi. Tak hanya itu, saya tidak bisa memasak.
Banyak
pelajaran yang saya dapatkan setelah satu bulan mengikuti KKN, semua ini
mengajarkan saya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Pribadi yang harus menghadapi
masalah apapun itu. Saya menempati tempat tinggal yang memang tidak ada barang
apapun. Jika di Jakarta saya bisa tidur di kasur yang empuk. Tapi di sini, saya
tidur hanya beralaskan kain saja. Malah, baju rompi saya gunakan untuk
dijadikan bantal. Terakhir, saya tidak pernah mengajar di sekolah.
Ini adalah pengalaman baru yang saya dapatkan di KKN.
Setelah
ikut KKN saya menjadi orang yang lebih menghargai makanan. Sebab, di sana
setiap harinya saya hanya memakan telur, nasi goreng, dan makanan siap saji
seperti sarden dan mie instan. Hanya itulah, makanan saya selama satu bulan
menjalani KKN. Selesai ikut KKN, saya di rumah menjadi suka memasak, sampai
orang tua saya sendiri heran dengan sikap saya sehabis KKN. KKN
mengajarkanku arti bersyukur yang sesungguhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar