Minggu, 02 September 2018

Satu Bulan di Negeri Jiran, Banyak Pelajaran Didapatkan


Hiduplah seolah mati besok, belajarlah seolah hidup selamanya, begitulah yang dikatakan oleh Mahatma Gandhi.

Dari sini saya belajar arti bersyukur yang sesungguhnya. Saya juga belajar untuk tidak mengeluh dalam kondisi apapun. Ketika sekolah dahulu, saya mendapatkan sekolah yang cukup layak di Jakarta. Namun, saat ini saya melihat anak-anak ibu pertiwi belajar di tempat yang seperti “kandang ayam”. Bangunan yang terbuat dari triplek dan kayu. Lantai beralaskan tanah serta atap sekolah dari asbes yang sudah bolong. Sekolah CLC Tunas Perwira juga tidak ada listrik, jika siang kepanasan ditambah udara berdebu. Jika hujan lantai menjadi becek.

Sekolah tempat saya mengajar CLC Tunas Perwira memiliki sistem kelas rangkap. Dimana, kelas Taman Kanak-Kanak digabung dengan kelas satu SD, kelas tujuh Sekolah Menengah Pertama digabung dengan kelas delapan. Tak hanya itu, di sini juga kelas  5 dan 6 digabung satu ruangan tanpa ada sekat. Kelas tujuh, delapan dan sembilan juga digabung menjadi satu ruangan. Hal ini yang membut kadang-kadang kelas menjadi terdengar sangat berisik dan tidak kondusif.

Tapi dibalik semua itu, mereka sangat antusias dalam belajar. Mereka tidak ada yang pernah datang terlambat ke sekolah. Padahal, jarak antara rumah ke sekolah Tunas Perwira cukup jauh. Mereka juga harus menunggu datangnya bus yang cukup lama. Walaupun begitu, hal itu tidak  menyurutkan niat mereka untuk belajar.

Tunas Perwira sebuah sekolah yang minim guru. Di sana hanya ada empat orang guru yang mengajar. Dua laki-laki dan dua perempuan. Kadang kala, Guru-guru tersebut mengajar dua kelas sekaligus. Untuk pengurusan Orientasi Siswa Intra Sekolah di CLC Tunas Perwira pun tidak ada. Hal ini yang membuat saya dan teman-teman untuk membuat OSIS yang akan membantu mengurus sekolah juga membantu guru.

Jika saya menjadi bagian dari penduduk di sini. Merasakan apa yang mereka rasakan dan menjalani apa yang mereka jalani. Tentunya, saya ingin tempat ini menjadi lebih baik lagi. Anak-anak Indonesia dapat merasakan pendidikan yang layak. Seperti anak-anak yang bersekolah di Indonesia.

Saya dan teman-teman kelompok mengadakan program Pemberdaya Pemuda Berdikari, dengan memberi pelatihan menulis berita. Saya harap, dengan memberikan pelatihan tersebut, mereka dapat mengeluarkan aspirasinya. Sampai suara mereka di dengar oleh pemerintah ataupun masyarakat Indonesia.


Terakhir, saya berharap anak-anak Indonesia bisa kembali ke tanah air. Karena bisa kembali ke Indonesia adalah salah satu mimpi dari mereka.

Desa Toleransi


Tawau sebuah daerah perbatasan antara negara Malaysia dan Indonesia. Sebuah daerah yang masyarakatnya banyak imigran dari Indonesia. Mereka pendatang dari daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sulawesi untuk bekerja sebagai TKI. Umumnya, masyarakat di desa ini bekerja sebagai petani di perkebunan kelapa sawit. Biasanya, anak-anak mereka belajar di sekolah Indonesia atau yang biasa disebut CLC.

Bagaimana memperlakukan perbedaan antar umat beragama dengan cara yang tepat? Akhir-akhir ini di Indonesia seringkali perbedaan agama menjadi faktor terjadinya konflik. Hingga akhirnya membuat masyarakat menjadi terpecah belah. Padahal, jika antar umat beragama bisa saling menghargai. Juga menerima suatu perbedaan. Akan tercipta suasana yang damai.

Seperti halnya di tempat saya mengabdi, Islam menjadi minoritas. Masyarakat yang memeluk agama Islam lebih sedikit dibanding dengan pemeluk agama Kristen dan Katolik. Meskipun begitu, peduduk di desa tersebut sangat toleransi. Bahkan seorang ustaz berteman baik dengan Pa Thomas, yang notabennya beragama katolik dan sering ceramah di geraja. Jika saya melihat di Indonesia, antara agama saling mengucilkan. Tapi di sini mereka sangat toleransi antar umat yang lainnya.

Hari kedua di negeri Jiran, saya bersama Deni, Obie dan Satria pergi mengunjungi rumah warga yang bernama Pa Thomas. Ia juga seorang Kepala Sekolah di CLC Tunas Perwira yang berasal dari NTT. Selain itu, ia juga seorang yang memeluk agama Kristen Katolik. 

Meskipun beragama Katolik, ia sangat menghargai orang yang berbeda agama. Saat di rumahnya, aku dan temanku disuguhkan daging ayam yang baru saja dipotong. Tapi, karena tahu kalau kami berempat muslim. Ia, meminta tolong kepada Pa Syafawi (orang yang beragama Islam) untuk menyembelih ayam tersebut. Sebab, ia tahu hukum menyembelih binatang harus mengucapkan bismillah. Sedangkan ia bukan seorang muslim.

Saat di rumah Pa Thomas, ia juga banyak menceritakan sejarah CLC Tunas Perwira. Salah satunya, pada tahun 2002-2003 murid-murid Pa Thomas belajar di sebuah Gereja. Seiring berjalannya waktu, banyak anak-anak yang beragama Islam ingin belajar bersama Pa Thomas. Akhirnya, Pa Thomas berinisiatif untuk membangun sebuah sekolah. Dimana, sekolah tersebut bisa diisi oleh putra-putri Indonesia. “Siapapun orangnya, apapun agamanya, dimanapun asal daerahnya, saya hanya peduli dengan pendikan,” ucap Pa Thomas, Jumat (24/7). 


Aku dan Keluarga Baru


Memilih KKN Mandiri Internasional memang bukanlah hal mudah. Karena, dari mencari teman kelompok, tempat, hingga mencari dana semuanya dilakukan mandiri. Tapi saya percaya, jika semua itu dilakukan dengan sungguh-sungguh pasti bisa. Karena Allah menghargai usaha hambanya.

Begitu berliku perjalanan yang dirasakan oleh kelompok KKN Pendekar untuk bisa menapaki kaki ke Negeri Sabah ini. Saat itu, waktu pelaksanaan KKN akan berjalan sebentar lagi. Namun, kelompok saya belum mendapatkan surat balasan dari KRI Tawau. Sebuah surat yang berisi perizinan untuk KKN di Tawau. Dari pihak Pengabdian Kepada Masyarakat (PPM) pun memberi batas waktu. Jika kami belum ada surat perizinan dari pihak sana, maka KKN Mandiri Internasional ini terpaksa bubar. Kemudian, saya harus kembali ke kelompok KKN regular.

Sampai waktu yang sudah ditentukan, pihak KRI Tawau belum memberikan surat balasan. Sebab, masih ada yang perlu diperbaiki dari proposal kegiatan kelompok saya. Hingga akhirnya, dari pihak PPM mengeluarkan file yang berisi daftar pembagian kelompok KKN. Dari yang semula hanya terdapat 200 kelompok regular. Kali ini, file tersebut tercantum nama mahasiswa yang mengikuti KKN Internasional Mandiri, Kebangsaan dan bersama, in campuss juga wilayah perbatasan. Namun, nama saya masih tercatat di kelompok KKN regular.­

Berada dalam ketidakpastian, begitulah yang saya rasakan. Hal tersebut membuat saya tetap ikut serta untuk datang rapat di kelompok KKN regular, juga pergi mengunjungi rumah dosen pembimbing. Di samping itu, saya juga mengurus kelompok KKN Internasional. Lelah? Sudah pasti, karena saya ikut serta dalam dua kelompok.

Kendala perizinan belum selesai, sudah ada lagi yang lain. kini tentang dana yang tak kunjung ada. Kemana saya akan mencari sponsor untuk bisa pergi kesana? Waktu tersisa tinggal satu bulan lagi. Berbagai instansi juga kemeterian saya kunjungi. Namun hasilnya nihil. Tak habis akal, saya mengirimkan email untuk mengajukan kerja sama ke berbagai instansi. Akan tetapi, tidak ada balasan sama sekali.

Sedih sudah pasti, tapi saya tidak mau berputus asa begitu saja. Saya yakin, di balik ujian yang di dapat dari kelompok KKN Pendekar ini pasti Tuhan memberikan jalan. Tuhan Maha pengabul doa dan benar saja, salah satu teman saya mengatakan untuk mengajukan proposal ke sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit. Sesudah itu, teman saya mengabarkan bahwa proposal kelompok KKN kami diterima. Lalu kami diminta datang ke kantornya pukul 10.00 WIB yang berlokasi di Plaza Indonesia.

Sehabis mendapat kabar seperti itu, saya bersama Ahsanti, Hafizh dan Fahmi segera pergi ke kantor PT. Minamas Plantation. Sesampainya di Plaza Indonesia saya menukarkan Kartu Tanda Penduduk ke resepsionis. Lalu resepsionis itu memberikan sebuah id card pengunjung agar bisa masuk ke dalam kantor tersebut.

Setelah itu, saya masuk ke dalam sebuah ruangan yang hanya terdapat meja bundar, enam bangku juga infokus. Di sana saya bertemu dengan Manajer Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Minamas Plantation Agus. Pertama, kami berkenalan terlebih dahulu dengan menyebutkan nama, fakultas dan jurusan.

Kemudian kami mulai mempresentasikan, Hafiz yang menjelaskan mengapa memilih KKN di Tawau, Ahsanti yang menjelaskan visi dan misi serta anggaran. Lalu saya  mempresentasikan program-program yang akan di jalankan kelompok KKN Pendekar selama di Tawau, Sabah-Malaysia. Terakhir Fahmi yang menjelaskan bentuk penawaran kerja sama.

Jujur saya gugup dan takut salah bicara di depan manajer CSR. Saya pun bertanya kepada teman-teman saya, apa mereka mempercayakan saya untuk bicara? Mereka pun berkata iya, sembari menganggukkan kepala dan tersenyum kepada saya. Melihat mereka seperti itu, saya pun tidak ingin mengecewakannya. Akhirnya, saya memberanikan diri untuk menjelaskan program-program KKN Pendekar. Meskipun, jauh dari kata baik.

Setelah beberapa penawaran kerja sama, PT. Minamas Plantation ingin bekerjasama dan memberikan dana kepada kelompok KKN Pendekar sebesar Rp32.500.000. Akan tetapi, meskipun telah mendapat sponsor, saya  tetap mencari donasi dengan berkeliling Situ Gintung saat hari pekan. Tak hanya itu, saya juga menjual baju-baju yang masih layak dipakai.

Perkara dana sudah selesai dan surat dari KRI Tawau pun telah diberikan kepada kelompok KKN Pendekar. Kini kami ingin memberitahukan kepada PPM. Bahwasannya, kami sudah mendapat surat perizinan dari KRI tawau. Kami tidak tahu apakah masih diterima atau tidak surat ini. Pasalnya, penentuan kelompok KKN sudah mutlak. Batas waktu pengumpulan berkas perizinan pun sudah jatuh tempo.

Meskipun begitu, kami tetap mencoba memberikan surat tersebut ke ruang PPM. Kemudian, pihak PPM meminta kami untuk menunggu persetujuan dari kepala PPM Djaka Badranaya.  Berhari-hari kami telah menunggu, berharap ada kepastian dari pihak PPM. Berkali-kali juga mengunjungi ruang PPM, berhasrat bertemu dengan kepala PPM. Tapi tak kunjung temu. Sampai akhirnya, salah satu temanku menelpon kepala PPM. Alhamdulilah, kepala PPM memberikan izin KKN Pendekar untuk mengikuti KKN Mandiri Internasional di Tawau, Sabah- Malaysia.

Mungkin kami tidak akan bisa pergi mengabdi di luar negeri, jika kelompok ini tidak ada kerja sama tim dan rasa kekompokan yang tinggi. Saling menguatkan itulah yang menjadikan modal utamanya.

Begitulah perjuangan saya bersama teman kelompok sebelum KKN. Hingga akhirnya bisa sampai ke negeri Jiran bersama-bersama. Kali ini saya ingin menceritakan teman kelompok saya selama KKN. Saya di CLC Tunas Perwira bersama dengan Deni Rahmad Akbar, Lalu Satria Gunawan dan Robiatu Al Addawiyah. Namun, antara perempuan dengan laki-laki kami berbeda rumah dan tidak tinggal satu atap. Kalau malam tiba, kedua lelaki itu kembali ke rumahnya. Jadi saya hanya tinggal berdua saja dengan Obie (sapaan akrabnya).

Jauh dari keluarga, merekalah yang saya miliki selama di Tawau. Mereka bertiga sudah seperti keluarga. Tempat saya berkeluh kesah juga berbagi cerita. Begitu banyak kisah tentang mereka yang membuat saya ingin menceritakan dalam lembaran kertas ini.

Pertama, saya ingin menceritakan tentang teman yang tinggal satu atap dengan saya, namanya Obie. Saya merasa bahwa memiliki kemiripan dengannya. Kami berdua termasuk anak yang tinggal di Ibu Kota dan manja. Hidup berkecukupan lalu harus merasakan betapa susahnya tinggal sebagai perantau di suatu desa. Saya masih mengingat pertanyaan yang ia lontarkan “bagaimana sih caranya mencuci baju?”. Begitulah yang diucapkan oleh Obie.

Kemudian ada Satria, masakan yang ia buat selalu lezat. Saat saya dan Obie sedang lelah untuk memasak, Satrialah yang menggantikan untuk memasak. Lalu Deni, seorang lelaki yang selalu mencairkan suasana. Selalu saja ada gurauan yang keluar dari bibirnya. Deni memiliki sifat peduli kepada temannya. Saat itu, Saya, Obie dan Deni sedang jalan-jalan mengelilingi kota Tawau. Namun saat pulang, mobil yang kami naiki salah. Akhirnya kami turun di tengah jalan. Denilah yang paling panik saat itu, padahal saya dan Obie biasa saja. mungkin menurutnya, ia ingin menjaga teman-temannya.

Satu bulan di negeri Jiran begitu banyak kisah yang tak terlupakan. Jujur kami berempat tidak ada yang pandai memasak. Kali pertama memasak nasi goreng tapi hangus. Ada pula yang memasak nasi  goreng tapi rasanya hambar. Lalu ada yang merebus mie instan, namun lodoh sampai air di panci habis. Kemudian, ada yang memasak nasi tetapi airnya kurang, sehingga masih berbentuk beras. Walaupun begitu kami tetap menghargai makanan yang telah dibuat, kami tidak membuang makanan tersebut bagaimanapun rasa dan bentuknya. Karerna saya tahu di luar sana masih banyak yang sulit untuk mencari makan.


Berawal dari Keinginan untuk Keluar Negeri

Awalnya, tujuan saya untuk ikut Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Internasional di daerah Tawau, Sabah-Malaysia karena keinginan saya untuk bisa keluar negeri. Saat itu saya berpikir, semakin jauh melangkah maka akan banyak pengalaman-pengalaman baru yang datang. Akan tetapi, setelah saya melihat langsung bagaimana kondisi Warga Negara Indonesia. Khususnya, anak-anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang ada di Tawau, begitu banyak yang belum mendapatkan pendidikan layak. Terlebih, di tempat saya mengabdi di Community Learning Center (CLC) Tunas Perwira.

Kali pertama melihat kondisi sekolah tempat saya mengajar, hati ini bertanya kenapa saya yang harus di tempatkan di CLC Tunas Perwira? Kenapa bukan yang lain? Saya pun tidak bisa menolak karena ini sudah menjadi keputusan Konsulat Republik Indonesia (KRI) Tawau. Kelompok yang tadinya berjumlah 12 orang, kini dipecah menjadi tiga bagian. Ada yang di CLC Merotai, Balung River dan saya beserta tiga teman yang lain di Tunas Perwira.

Mulanya saya ingin seperti teman yang di tempatkan di  CLC Merotai dan Balung River. Namun semua keinginan itu hilang. Semua itu terjadi saat saya sedang menuju tempat tinggal di Kampung Rangu. Di sana ada anak-anak yang berlari mengejar mobil yang saya naiki. Mereka berlari sembari melambaikan tangan dan tersenyum. Saya yang berada di dalam mobil pun sontak melambaikan tangan juga. Ya, kedatangan saya di sambut dengan hangat oleh mereka. Setibanya saya di rumah, anak-anak yang berlari tadi menghampiri saya dan bersalaman.

Anak-anak TKI di Malaysia sama dengan anak Indonesia yang lain. Hanya saja nasib mereka yang berbeda. Mereka tinggal di negara Malaysia dan tidak memiliki dokumen. Hal itu, yang membuat mereka seringkali ditangkap oleh polisi Malaysia. Ada salah satu murid saya yang menceritakan, saat pagi-pagi buta ada seorang yang berpakaian polisi datang ke rumahnya. Ia pun langsung melarikan diri dari rumahnya.

Mendengar langsung cerita dari anak-anak penerus bangsa ini, bahkan melihat langsung kehidupannya. Betapa sulitnya hidup di negera asing. Tapi semua itu tidak menurunkan semangat mereka untuk belajar. Mereka masih bisa tertawa dalam kondisi apapun. Hal itu yang menjadi alasan saya mengikuti KKN Mandiri Internasional. Saya ingin melihat tawa dan candanya putra-putri bangsa Indonesia.

Selain itu, saya ingin mengenalkan mereka tentang Indonesia yang kaya akan sumber alam ini. Karena masih banyak yang mereka tidak tahu tentang Indonesia dan budayanya. Tak hanya itu, saya juga ingin mereka mendapatkan pendidikan yang layak. Sebagaimana yang dirasakan oleh anak-anak di Indonesia.
Kalau dikatakan kompetensi, tidak juga. Di sana saya juga perlu banyak belajar. 

Hal yang saya lakukan di sana setiap hari Senin sampai Jumat mengajar anak-anak di CLC Tunas Perwira. Setelah jam pulang sekolah, mereka ke rumah saya untuk belajar tambahan, ada yang belajar matematika, bahasa Inggris dan IPA. Selain belajar, mereka juga sembari bermain, ada yang bermain UNO, scrabble dan monopoli. Jika waktu sudah menunjukan Pukul 16.00 WIB mereka sudah harus kembali kerumahnya. Karena bus sekolah sudah menjemputnya.

Khusus di hari Selasa, selepas jam pulang sekolah saya mengajarkan anak-anak yang mau belajar membaca puisi. Saya ingin, salah satu dari anak-anak itu bisa mengikuti lomba puisi dan mengharumkan nama Indonesia.

Setiap Jumat saya mengajak anak-anak untuk belajar membaca buku Iqra dan Alquran di rumah. Hidup di tempat yang mayoritas Katolik membuat mereka minim pelajaran agama Islam. Bahkan, ada anak kelas enam Sekolah Dasar (SD) yang masih belajar buku Iqra. Adapula yang sudah sampai usia pada tahap kedewasaan, tapi belum mampu membaca Alquran dan salat.

Akhirnya saya pun mengajak mereka untuk belajar mengaji bersama di rumah. Saya ingin kenalkan mereka tentang Islam. Mereka pun antusias untuk ikut mengaji bersama. Bahkan ada yang ingin, namun memiliki kendala dana. Akhirnya, saya dan ketiga teman yang lain berinisiatif memberikan ia biaya untuk menaiki bus.

Sebelum pergi ke tempat tujuan KKN, tentu sudah ada rencana-rencana yang sudah di susun rapi dalam bentuk proposal. Dalam program pendidikan yaitu menjadi pengajar CLC, cerita bersama wali murid, pemberdayaan pemuda, rumah baca, dan penyuluhan anti narkoba. Kemudian dalam rencana dalam program agama adalah bina baca Alquran. Terakhir, dan program budaya ada Hari Ulang Tahun (HUT) RI, latihan pengenalan budaya dan post to post.

Jujur, sebelum mengikuti KKN, saya termasuk pribadi yang tidak mandiri. Wajar saja, saya tidak pernah jauh dari orang tua. Mencuci baju, mencuci piring setelah makan jarang sekali saya melakukan saat di rumah. Sampai-sampai saya tidak pernah yang namanya memasak nasi. Tak hanya itu, saya tidak bisa memasak.

Banyak pelajaran yang saya dapatkan setelah satu bulan mengikuti KKN, semua ini mengajarkan saya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Pribadi yang harus menghadapi masalah apapun itu. Saya menempati tempat tinggal yang memang tidak ada barang apapun. Jika di Jakarta saya bisa tidur di kasur yang empuk. Tapi di sini, saya tidur hanya beralaskan kain saja. Malah, baju rompi saya gunakan untuk dijadikan bantal. Terakhir, saya tidak pernah mengajar di sekolah. Ini adalah pengalaman baru yang saya dapatkan di KKN.

Setelah ikut KKN saya menjadi orang yang lebih menghargai makanan. Sebab, di sana setiap harinya saya hanya memakan telur, nasi goreng, dan makanan siap saji seperti sarden dan mie instan. Hanya itulah, makanan saya selama satu bulan menjalani KKN. Selesai ikut KKN, saya di rumah menjadi suka memasak, sampai orang tua saya sendiri heran dengan sikap saya sehabis KKN. KKN mengajarkanku arti bersyukur yang sesungguhnya.