Tawau sebuah daerah perbatasan antara
negara Malaysia dan Indonesia. Sebuah daerah yang masyarakatnya banyak imigran
dari Indonesia. Mereka pendatang dari daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan
Sulawesi untuk bekerja sebagai TKI. Umumnya, masyarakat di desa ini bekerja
sebagai petani di perkebunan kelapa sawit. Biasanya, anak-anak mereka belajar
di sekolah Indonesia atau yang biasa disebut CLC.
Bagaimana memperlakukan perbedaan
antar umat beragama dengan cara yang tepat? Akhir-akhir ini di Indonesia
seringkali perbedaan agama menjadi faktor terjadinya konflik. Hingga akhirnya membuat masyarakat menjadi terpecah belah. Padahal, jika antar umat beragama bisa saling
menghargai. Juga menerima suatu perbedaan. Akan tercipta suasana yang damai.
Seperti halnya di tempat saya
mengabdi, Islam menjadi minoritas. Masyarakat yang memeluk agama Islam lebih
sedikit dibanding dengan pemeluk agama Kristen dan Katolik. Meskipun begitu, peduduk di desa tersebut sangat toleransi. Bahkan seorang ustaz berteman
baik dengan Pa Thomas, yang notabennya beragama katolik dan sering ceramah di
geraja. Jika saya melihat di Indonesia, antara agama saling mengucilkan. Tapi
di sini mereka sangat toleransi antar umat yang lainnya.
Hari kedua di negeri Jiran, saya
bersama Deni, Obie dan Satria pergi mengunjungi rumah warga yang bernama Pa
Thomas. Ia juga seorang Kepala Sekolah di CLC Tunas Perwira yang berasal dari NTT.
Selain itu, ia juga seorang yang memeluk agama Kristen Katolik.
Meskipun beragama Katolik, ia sangat
menghargai orang yang berbeda agama. Saat di rumahnya, aku dan temanku
disuguhkan daging ayam yang baru saja dipotong. Tapi, karena tahu kalau kami
berempat muslim. Ia, meminta tolong kepada Pa Syafawi (orang yang beragama
Islam) untuk menyembelih ayam tersebut. Sebab, ia tahu hukum menyembelih
binatang harus mengucapkan bismillah. Sedangkan ia bukan seorang muslim.
Saat di rumah Pa Thomas, ia juga
banyak menceritakan sejarah CLC Tunas Perwira. Salah satunya, pada tahun
2002-2003 murid-murid Pa Thomas belajar di sebuah Gereja. Seiring berjalannya
waktu, banyak anak-anak yang beragama Islam ingin belajar bersama Pa Thomas.
Akhirnya, Pa Thomas berinisiatif untuk membangun sebuah sekolah. Dimana,
sekolah tersebut bisa diisi oleh putra-putri Indonesia. “Siapapun orangnya,
apapun agamanya, dimanapun asal daerahnya, saya hanya peduli dengan pendikan,” ucap
Pa Thomas, Jumat (24/7).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar