Minggu, 02 September 2018

Desa Toleransi


Tawau sebuah daerah perbatasan antara negara Malaysia dan Indonesia. Sebuah daerah yang masyarakatnya banyak imigran dari Indonesia. Mereka pendatang dari daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sulawesi untuk bekerja sebagai TKI. Umumnya, masyarakat di desa ini bekerja sebagai petani di perkebunan kelapa sawit. Biasanya, anak-anak mereka belajar di sekolah Indonesia atau yang biasa disebut CLC.

Bagaimana memperlakukan perbedaan antar umat beragama dengan cara yang tepat? Akhir-akhir ini di Indonesia seringkali perbedaan agama menjadi faktor terjadinya konflik. Hingga akhirnya membuat masyarakat menjadi terpecah belah. Padahal, jika antar umat beragama bisa saling menghargai. Juga menerima suatu perbedaan. Akan tercipta suasana yang damai.

Seperti halnya di tempat saya mengabdi, Islam menjadi minoritas. Masyarakat yang memeluk agama Islam lebih sedikit dibanding dengan pemeluk agama Kristen dan Katolik. Meskipun begitu, peduduk di desa tersebut sangat toleransi. Bahkan seorang ustaz berteman baik dengan Pa Thomas, yang notabennya beragama katolik dan sering ceramah di geraja. Jika saya melihat di Indonesia, antara agama saling mengucilkan. Tapi di sini mereka sangat toleransi antar umat yang lainnya.

Hari kedua di negeri Jiran, saya bersama Deni, Obie dan Satria pergi mengunjungi rumah warga yang bernama Pa Thomas. Ia juga seorang Kepala Sekolah di CLC Tunas Perwira yang berasal dari NTT. Selain itu, ia juga seorang yang memeluk agama Kristen Katolik. 

Meskipun beragama Katolik, ia sangat menghargai orang yang berbeda agama. Saat di rumahnya, aku dan temanku disuguhkan daging ayam yang baru saja dipotong. Tapi, karena tahu kalau kami berempat muslim. Ia, meminta tolong kepada Pa Syafawi (orang yang beragama Islam) untuk menyembelih ayam tersebut. Sebab, ia tahu hukum menyembelih binatang harus mengucapkan bismillah. Sedangkan ia bukan seorang muslim.

Saat di rumah Pa Thomas, ia juga banyak menceritakan sejarah CLC Tunas Perwira. Salah satunya, pada tahun 2002-2003 murid-murid Pa Thomas belajar di sebuah Gereja. Seiring berjalannya waktu, banyak anak-anak yang beragama Islam ingin belajar bersama Pa Thomas. Akhirnya, Pa Thomas berinisiatif untuk membangun sebuah sekolah. Dimana, sekolah tersebut bisa diisi oleh putra-putri Indonesia. “Siapapun orangnya, apapun agamanya, dimanapun asal daerahnya, saya hanya peduli dengan pendikan,” ucap Pa Thomas, Jumat (24/7). 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar