Foto ini diambil ketika kami pergi ke Pulau Seribu, Minggu (20/9).
Ku awali pagi ini
dengan sebuah tulisan. Kali ini aku ingin menceritakan tentang sosok yang
sangat aku rindukan. Aku biasa memanggilnya dengan sebutan “Meurah”. Ia lelaki
asal Banda Aceh yang memiliki nama gelar “Cut Meurah”. Teman-temanku sering kali
menanyakan “kok cowo namanya Cut?” bahkan keluargaku juga menanyakan hal yang
demikian. Aku hanya dapat menjawab memang seperti itu gelar yang keluarganya
miliki. Dari mulai ayah, paman, kakek, dan keluarga-keluarganya terdahulu
memiliki nama gelar “Cut”.
Minggu, 20 Agustus kami pergi ke sebuah pulau yang berada di Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Setelah beberapa hari pulang dari Pulau Seribu, Ia mengabarkanku bahwa mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Perasaan senang dicampur rasa sedih saat itu aku rasakan. Ya aku senang Ia mendapatkan beasiswa tersebut, karena aku juga sempat berdoa kepada Tuhan agar dia lolos dan mendapatkan beasiswa tersebut. Namun, tak munafik diri ini pun sulit untuk jauh darinya.
Kini sudah sebulan lebih 11 hari Ia meninggalkanku. Tetapi,
Ia meninggalkanku bukan karena mencari wanita
lain, melainkan untuk menempuh studi S1 di luar negeri. Ia melanjutkan
kuliahnya di sebuah negara yang memiliki dua benua yaitu Turki, tepatnya di Universitas
Sakarya. Awalnya Ia adalah mahasiswa di sebuah kampus Pembaharu, Universitas Islam
Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Namun
sekarang pindah ke Turki dengan mengambil Jurusan Sejarah Sastra Turki.
Sulit sekali menjalani
hubungan jarak jauh, terlebih kami
berbeda negara bahkan beda benua. Perbedaan waktu lima jam antara Turki dan
Indonesia terkadang juga menjadi penghalang untuk berkomunikasi. Di mana, saat
Turki masih malam, Indonesia sudah pagi. Kemudian ketika Turki sudah pagi,
Indonesia siang hari.
Jauh dengannya membuat
hari-hariku dirundung rasa rindu. Semakin hari rindu ini semakin mendalam. Dan semakin
sakit ketika rindu datang namun tak dapat bertemu. Kala rindu, aku hanya dapat
melihat foto-foto saat kami bersama, membaca buku harian yang Ia tulis sejak
masa Sekolah Menengah Atas (SMA), dan mengajaknya untuk video call.
Aku sempat belajar di
perkuliahan yang membahas similarity dalam
hubungan manusia dengan komunikasi. Di mana hubungan manusia akan terasa dekat
jika memiliki kesamaan atau kemiripan, seperti hobi contohnya. Tidak peduli
seberapa pun jauhnya jarak ketika memiliki kesamaan maka akan terasa dekat. Kami
sama-sama menyukai dunia literasi, itulah mengapa kami sempat satu organisasi
di Lembaga Pers Mahasiswa UIN Jakarta.
Memang sulit untuk
menjalani hubungan jarak jauh ini. Harus ada kepercayaan antara satu dan yang
lainnya. Karena kuncinya memang satu yaitu kepercayaan. Aku di sini memberikan
kepercayaan terhadapmu. Aku percaya kamu akan kembali ke Indonesia dan menemui
kedua orang tuaku, aku pun juga percaya kamu tidak akan macam-macam dengan yang
lain. Maka, ketika aku memberikanmu kepercayaan, kamu pun harus menjaga
kepercayaan yang telah aku berikan ini.
Selamat belajar dan
berjuang di negeri dua benua duhai
kekasihku. Aku menunggumu pulang ^_^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar